Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

100% Hoby Bikin CERPEN

Novel ringan karya penulis muda memenuhi deretan rak toko buku. Sambutan pasar luar biasa, sampai banyak buku dicetak ulang dalam waktu singkat. Otomatis royalti pun mengalir ke kantong pengarang. Benar-benar hobi yang pantas dilirik.
TeenLit alias teens literature makin akrab dengan kita. Paparan cerita ringan dengan dialog sehari-hari menjadi ciri yang mencolok. Meski kerap disebut buku cerita kelas dua, kalangan muda rebutan membacanya. Bahkan tak dimungkiri lagi buat penerbit, novel-novel ringan ini berada di jajaran terdepan penjualan buku.
Serial TeenLit yang dikeluarkan penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) bisa menjadi contoh. Setiap judulnya diproduksi awal 10.000 eksemplar. Hebatnya dari jumlah sebanyak ini, ada novel yang baru dua minggu sudah habis dan harus cetak ulang sebanyak 15.000 kopi lagi. Sungguh fenomena besar bagi dunia baca Indonesia.
Dulu bacaan remaja semacam ini sempat populer berkat suksesnya Lupus dan serial Fear Street. Setelah itu popularitas bacaan semacam ini mulai menurun. Tapi, bukan berarti bacaan untuk remaja kosong. Menurut penerbit GPU, tanpa label TeenLit GPU lewat Meg Cabot dengan serial Princess Diary berhasil menjadi best seller selama berbulan-bulan sejak tahun 2002. Tak pelak lagi begitu buku ini laris, GPU segera memborong puluhan judul sejenis dari penerbit luar negeri. Seperti serial Mates, Dates karangan Cathy Hopkins yang judulnya lucu-lucu macam Bra Tiup, Kecupan Kosmis. Novel sejenis kemudian dirangkum dalam label TeenLit itu.
Tren baru
Cerita remaja dan ditulis oleh pengarang muda tampaknya sedang jadi tren. Ini diakui oleh Sitok Srengenge, yang novel Nothing but Love terbitan perusahaan penerbitannya, Kata Kita, dicetak ulang dalam tempo sebulan. Sitok Srengenge mengakui kalau buku Nothing but Love
karya putrinya, Laire Siwi, termasuk yang paling laku. "Sejak kami berdiri Maret ini sudah menerbitkan enam judul. Yang paling laku itu cuma Laire sama Stephanie (pengarang cewek lain). Jadi, yang serius-serius enggak laku."
Fenomena meledaknya pengarang muda pun semakin terbukti karena ada buku lain terbitan Kata Kita yang penjualannya macet padahal sudah diresensi dan didiskusikan di mana-mana. Kenapa, ya? "Mungkin karena imej. Orang sudah takut kalau ini cerita sastra," ujar Sitok Srengenge. Ia juga mengakui pengaruh pengarang perempuan sangat besar. "Kita menerbitkan karya pengarang yang sudah memperoleh sekitar 30 penghargaan dan enam di antaranya juara pertama lomba cerpen, cover buku juga sudah ngepop, tapi penjualannya macet. Mungkin karena pengarangnya cowok, sudah tua, lulusan ITB, dianggapnya serius. Padahal, ceritanya ngepop dan cover-nya sudah dibikin ngepop juga."
Sementara pihak GPU memang mencanangkan tema TeenLit ini, sejak kesuksesannya mengusung tema Chicklit di tahun 2003, yang bercerita tentang kehidupan wanita kosmopolitan. Waktu itu ide ChickLit muncul karena keinginan menerbitkan buku dengan tema, seperti di dunia mode. "Karena kita punya banyak cerita wanita kosmopolitan, disepakati tema ChikLit," Istilahnya, sih, dari luar setelah suksesnya novel kayak Bridget Jones Diary itu. Tapi kita bikinkan slogan dan tag line, ’Being Single and Happy’," ujar Listiana, senior editor GPU. Kesuksesan ini menggoda GPU untuk menerbitkan tema lain yang juga menarik. "Tahun 2004, kita menentukan temanya TeenLit. Terbitnya mulai Februari, tapi launching resmi April lalu. Saat itu kita sudah punya dua pengarang lokal yang masih remaja, yaitu Dyan dan Maria Ardelia," imbuh Listiana. Mengekor kesuksesan TeenLit, penerbit lain berlomba mencari cerita ringan dari pengarang remaja. Bahkan ada yang dibubuhi tulisan di cover kalau ini Teenlit asli Indonesia.
Dengan penuturan jujur dan gaya bahasa khas remaja, novel-novel ini menawarkan kisah yang dekat sama kita, tokoh-tokoh yang terasa akrab di hati, serta jalan keluar yang menimbulkan inspirasi dan wawasan baru. Paling enggak, kita merasa tidak sendirian melewati masalah identitas diri, perubahan fisik dan mental, hubungan dengan ortu, persahabatan, ketertarikan pada lawan jenis, kehilangan orang yang dicintai, masalah sekolah, kecemasan, dan kepercayaan diri yang kerap melanda di usia kita.
"Soalnya baca TeenLit itu enggak bikin pusing kepala, ceritanya remaja banget. Nulis-nya kayak kita ngomong sama teman," komentar Dian, siswi kelas tiga SMU Marsudirini, Bekasi, tentang kegemarannya sama buku yang satu ini.
Tema remaja pun semakin pas karena si penulis juga berusia sepantar kita dan benar- benar mengerti dunia remaja. Apalagi mereka juga sering dapat masukan dari teman- temannya. Terutama para penulis muda yang mengedarkan karyanya ke sesama teman sebelum diterbitkan ke masyarakat luas. Agatha, teman sekolah Maria Ardelia, pengarang Me versus High Heels!, berkomentar tentang novel temannya itu, "Ceritanya, tuh, bener-bener kayak beneran deh. Maksud gue kayak kehidupan kita-kita saja. Jayus lagi, kayak yang buat."
Tapi, kayaknya memang ada satu kondisi yang kemudian merangsang penulis-penulis baru. Menurut Sitok Srengenge, awalnya bisa dirunut dari novel Saman karangan Ayu Utami, disusul Dewi Lestari dan lainnya. "Meski sebelum mereka sudah ada penulis yang tidak terlalu tua dan perempuan, tapi momennya baru merebak saat itu karena penjualan yang amat dahsyat. Setelah itu muncul penulis muda lain seperti Djenar dan Fira Basuki yang mendapat publisitas cukup baik. Saya kira ini ada pengaruhnya juga. Meramaikan penulis perempuan muda dan ngepop."
Penulis novel Menggarami Burung Terbang ini juga berpendapat kalau kegairahan membaca di kalangan muda sedikit banyak dipengaruhi oleh film Ada Apa Dengan Cinta? tahun lalu. "Gara-gara buku Aku karangan Syumandjaya ditenteng-tenteng Dian Sastro di AADC? walau buku itu tidak ada ngepop-ngepopnya, tapi jadi banyak orang muda yang mungkin karena ingin mengidentifikasikan dirinya seperti tokoh di film itu," jelas Sitok Srengenge panjang lebar. Jadi, banyak di antara kita yang merasa kuper kalau enggak baca buku Aku. Sekarang, buku Aku yang berbentuk skenario, bukan novel seperti sekarang, dicetak ulang berkali-kali. Akhirnya, bisa ditebak, konsumen langsung terpengaruh. Tren membeli buku di kalangan remaja juga membaik, tambah Sitok Srengenge.
Mudahnya mengarang
Lebih menarik lagi ternyata banyak di antaranya ditulis sama orang seumuran kita. Ada Laire Siwi yang masih kelas kelas satu SMU waktu menerbitkan novelnya, Maria Ardelia yang kini kelas tiga SMU St Theresia, dan Dyan yang baru saja lulus dari SMUN 6, Jakarta.
Yang dahsyat, buku mereka semua mengalami cetak ulang. Mulai dari 4.000 sampai 15.000 kopi. Dari tiap buku rata-rata mereka mendapat royalti 10 sampai 12 persen. Kalau rata-rata dijual seharga Rp 25.000 sampai Rp 30.000, itu berarti per buku bisa dapat Rp 2.500 sampai Rp 3.000. Kalikan dengan 10.000 eksemplar saja, uang yang mengalir ke kocek bisa antara Rp 25.000.000 sampai Rp 30.000.000. Belum lagi ada beberapa penerbit yang mau memberi uang kontrak sebesar 25 persen dari royalti buku yang dicetak awal. Biasanya cetakan awal itu sekitar 4.000 sampai 10.000 kopi. Kalau bukunya laris tanpa kerja lagi kita tetap dapat duit. Jadi, sambil sekolah dan bikin karangan, kita bisa jadi jutawan. Fantastis, kan!
Kebanyakan penulis remaja mengaku enggak menyangka hasil karyanya bisa berhasil. Biasanya mereka mengawali profesinya dari hobi nulis. Dyan yang menulis novel Dealova-nya saat masih SMP bahkan mulanya cuma iseng. Menurut cewek yang bercita-cita jadi psikolog ini, awalnya bikin cerita bukan untuk dipublikasikan. Memang sejak SD sudah senang menulis lalu teman-teman yang mendorong Dyan untuk enggak malu menawarkan ke penerbit. Pengarang muda yang sudah punya simpanan tiga novel ini bilang perjalanan nulis-nya dimulai dari diary. "Cuma kalau di diary, kan, itu cerita kita yang sebenarnya. Kalau aku di diary kebanyakan sial melulu. Jadinya pas dibikin cerita aku nulis saja yang bagus-bagus. Banyak-banyak berkhayal maunya gimana. He-he-he…," tawanya renyah.
Awal iseng-iseng ini juga diiyakan sama Laire dan Maria Ardelia (Mardel). Semuanya sudah senang nulis sejak SD dan sama-sama dimulai dengan nulis diary, lalu dikembangkan jadi cerpen, terakhir baru dipanjangkan menjadi novel. "Paling enggak dari pengamatan sekitar, curhat teman," ujar Laire, yang bisa ditelepon berjam-jam sama teman- temannya untuk dicurhati.
Cuma sering juga mereka mengalami kemacetan. Rasanya di otak sudah ada, tapi enggak tahu nuangin-nya gimana. "Kalau sudah enggak mood, aku biasanya berhenti dulu. Ditinggal tidur atau dengar musik," tutur Mardel, yang orang rumahnya enggak ada yang tahu soal penerbitan bukunya sampai kontrak ditandatangani.
Monty Tiwa, pengarang novel Dunia Mereka, mengatakan, tiap penulis punya trik masing-masing menghadapi writer’s block alias kemandekan menulis. Ada yang menggunakan keindahan alam sebagai pemancing, atau melepas penat ke mal, dengar musik, nonton, untuk mengembalikan gairah menulis.
Tapi, gimana sih caranya supaya kita bisa mengarang tulisan yang oke? Laire, Marde, dan Dyan sepakat bilang pokoknya mulai nulis saja. Idenya bisa dari mana saja. Film, buku, cerita teman, cerita sendiri, tapi yang paling gampang yang dekat sama dunia kita. Soalnya bikin karakter tokohnya lebih mudah. Monty yang juga penulis skenario film Biarkan Bintang Menari mengibaratkan menulis apa yang ada di hati itu bagai anak kecil yang bermain bebas dan mengacaukan lantai atau kertas dengan mainannya. "Lalu barulah gunakan otak untuk edit bagian yang perlu dan tidak, layaknya orangtua merapikan mainan setelah anaknya puas bermain. Mulai saja nulis di mana saja, kapan saja. Biarkan tulisan bermain dengan sendirinya, seperti pertama kali belajar main sepeda. Seiring waktu sepeda itu akan makin lancar lajunya tanpa ada yang bisa menghentikan." Weeits, patut dicatat, nih!
Icha Rahmanti yang mengarang Cintapuccino memberi tips begini, "Kalau soal topik gue pikir topik apa saja bisa jadi menarik. Tinggal gimana kita ngemas-nya saja, cari angle baru agar sesuatu yang biasa jadi lebih fresh." Menurut cewek lulusan teknik arsitektur ITB ini, penulis sebaiknya menetapkan tujuan dulu. Misalnya, kita mau tulisan fiksi atau nonfiksi? Kalau sudah punya tujuan, kita jadi tahu, apakah tulisan sudah sesuai sama tujuan. "Tapi, menurut gue, nulis juga sebuah proses. Misalnya, hasil akhir enggak sesuai tujuan belum tentu tulisan itu jelek. Karena proses jadi practice make perfect," jelas Icha panjang lebar.
Jadi, menulis itu mudah. Semua orang punya cerita, semua orang biasa bikin diary. Kita pun juga. Yang penting nulis, nulis, nulis, dan nulis lalu tawarkan ke penerbit. Yuk, mulai!
Diambil dari:
Nama situs: Kompas Cyber Media
Penulis: Nina Setyawati dan Eka Alam Sari
Alamat URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/06/muda/1191856.htm
Share |

Pilih Fiksi atau Non Fiksi?

Fiksi atau non-fiksi? Barangkali tak sedikit penulis pemula yang masih mengalami kebimbangan dalam menentukan jenis tulisan mana yang akan mereka tekuni. Seperti sebuah katalog belanja, tulisan ini diharapkan dapat membantu Anda untuk dapat memperoleh sedikit gambaran mengenai keduanya, namun tentu saja, hanya Anda sendirilah yang dapat menentukan pilihan untuk diri Anda sendiri.
Sebagaimana halnya dengan penikmatnya, baik tulisan fiksi maupun non- fiksi juga memiliki pendukungnya masing-masing. Disini, yang disebut sebagai 'pendukung' tulisan fiksi meliputi: novelis, cerpenis, dramawan dan kadang penyair pun sering dimasukkan ke dalamnya. Sementara untuk 'pendukung' tulisan non-fiksi disini meliputi para jurnalis, esais, penulis biografi, feature, tulisan ilmiah dsb. Tentu tidak begitu sulit bagi kita untuk mengenali mereka.
Lalu apakah yang disebut dengan tulisan fiksi dan non-fiksi? Untuk fiksi, satu ciri yang pasti ada dalam tulisan ini adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb adalah hal-hal penting yang memerlukan perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data) yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi memungkinkan kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah 'kebenaran' yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya. Sementara itu, kebebasan yang dimiliki pengarang fiksi tadi di lain pihak juga memungkinkan adanya kebebasan bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya multi interpretasi makna. Bagi satu orang, novel JD Salinger yang berjudul "Catcher in the Rye" bisa dinilai sebagai sebuah novel yang dapat memperkaya pengetahuan tentang lika-liku kejiwaan manusia dan lingkungannya, namun novel yang sama juga dapat menginspirasi seorang bernama Mark David Chapman untuk membunuh pujaannya yakni John Lennon.
Berkebalikan dengan fiksi, tulisan non-fiksi mengutamakan data dan fakta yang tidak boleh dibumbui oleh imajinasi atau rekaan penulis. Dalam tulisan non-fiksi berbentuk jurnalistik, penyampaian fakta ini bahkan harus memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam satu pakem yang disebut 5W1H (What, Who, When, Where, Why, How). Walau tidak sama, pentingnya referensi data ini juga menjadi syarat dalam tulisan yang lebih 'bebas' seperti esai, feature, memoar, atau kesaksian. Namun, ini tidak berarti bahwa tulisan non-fiksi sama sekali tidak memberikan kebebasan bagi penulisnya. Penulis non- fiksi tentu saja dapat menuliskan tema apa saja yang ia inginkan, bedanya ia hanya harus menyampaikannya dengan data yang dapat dipertanggung jawabkan, minimal oleh dirinya sendiri. Bahkan dalam praktiknya, bisa dibilang topik untuk tulisan non-fiksi yang berupa opini atau feature juga lebih mudah ditemukan. Cukup dengan mengamati, menilai, atau memiliki usul, sebuah topik akan cepat didapat. Satu hal lagi yang membedakan tulisan non-fiksi dengan fiksi adalah kejelasan makna yang ingin disampaikan penulis dalam karyanya. Dengan menulis sebuah tulisan non-fiksi yang baik dan sistematis, pembaca akan lebih mudah digiring ke sebuah opini atau pesan yang ingin disampaikan penulis. Tanpa harus perlu mengartikan simbolisasi atau metafora pesan yang ingin disampaikan seperti yang terjadi pada cerita fiksi.
Pada perkembangan selanjutnya, fiksi zaman sekarang juga sudah berbeda dengan kisah fiksi lama yang sering identik dengan dongeng, tulisan fiksi saat ini tidak melulu berisi hal-hal atau cerita imajinatif dan penuh khayalan. Kita bisa melihat contohnya pada fiksi-fiksi yang ditulis dengan gaya realis. Tak jarang sebuah fiksi yang ditulis dengan gaya realis yang baik mampu membuat banyak pembaca lantas mengidentifikasikan kisah tersebut dengan kondisi nyata di sekeliling mereka. Fiksi (biasanya cerpen) yang ditulis dengan cara bertutur seperti sebuah jurnal atau laporan juga ada, bisa disebut juga novel klasik Poor People karangan Fyodor Dostoyevsky yang ditulis dengan gaya surat menyurat. Selanjutnya ada juga genre fiksi-ilmiah yang memadukan dasar-dasar ilmu sains ilmiah dengan kisah-kisah khayalan. Fiksi-fiksi yang antara lain dipopulerkan oleh penulis seperti HG Wells dan Isaac Asimov tersebut pada perkembangannya juga sering mengilhami penemuan-penemuan yang kita kenal saat ini. Berkebalikan dengan fiksi ilmiah yang biasanya mengemukakan hal-hal yang belum terjadi, kitapun mengenal adanya novel-novel sejarah. Mulai dari novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang menyajikan cerita-cerita yang dilengkapi referensi sejarah sampai novel Da Vinci Code yang sebegitu 'meyakinkan' nya 'data' yang ia paparkan, hingga membuat banyak pemimpin Kristen kalang kabut dan orang Kristen bimbang akan fakta sejarah kekristenannya.
Hal sebaliknya juga terjadi di penulisan non-fiksi. Tulisan non- fiksi pun saat ini tidak selalu bergaya laporan yang kaku, penuh kutipan data serta referensi yang membuatnya 'kering'. Ini bisa dilihat dari dikenalnya jurnalisme sastrawi. Jurnalisme yang memakai estetika layaknya sastra dengan isinya yang menguak satu topik secara lebih dalam dan kadang juga disajikan dengan gaya sebuah narasi karya sastra. Jadi jurnalisme macam ini bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa, tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut. Hal serupa juga bisa kita lihat dari tulisan-tulisan feature, biografi, otobiografi, memoar, yang kini semakin banyak yang bisa kita nikmati seperti halnya membaca karya fiksi atau sastra.
Seorang penulis memang bebas untuk menulis apapun, baik fiksi atau non-fiksi. Tak ada yang melarang seorang sastrawan menulis tulisan ilmiah dan tak ada yang melarang seorang wartawan menulis novel. Tidak jarang pula kita mengenal penulis-penulis terkenal yang bisa menulis keduanya dengan sama baik. Namun biasanya seorang penulis tetap akan memiliki kecenderungan untuk memilih salah satunya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan ini juga bisa bersumber dari beberapa hal. Yang paling berpengaruh adalah faktor bacaan. Mengingat bahwa proses pembelajaran manusia pada awalnya adalah selalu dengan meniru, seorang penulis pemula yang lebih banyak membaca tulisan-tulisan yang berbentuk jurnal atau pendapat (non- fiksi) biasanya juga cenderung akan membuat tulisan-tulisan bergaya serupa. Hal sebaliknya juga terjadi pada penulis non-fiksi.
Faktor-faktor selanjutnya bisa berasal dari lingkungan, budaya dan sistem pendidikan. Disadari atau tidak, ini adalah faktor yang cukup berpengaruh. Misalnya pada budaya yang menganggap mengungkapkan pendapat secara langsung dan terus terang sebagai sesuatu yang tidak sopan atau bahkan subversif, tulisan fiksi yang memungkinkan penyampaian pendapat atau kritik lewat simbol-simbol biasanya akan dipilih. Demikian juga dengan metode pendidikan. Apa yang terjadi pada metode pengajaran di Indonesia adalah contoh yang mudah dilihat. Ketika bahkan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia lalu diubah menjadi pelajaran yang hanya mementingkan penghafalan nama dan data- data saja, ketika para pengajarnya sendiri ternyata gagal menunjukkan bagaimana membuat sastra sebagai sesuatu yang menarik dan penting bagi kehidupan, maka menulis fiksi (atau bahkan menulis saja) pun dipandang sebagai aktifitas yang tidak ada gunanya. Faktor lain tentu adalah aspek psikologis penulis itu sendiri. Sebagaimana masing-masing manusia selalu memiliki salah satu belahan otak yang lebih dominan dalam bekerja, demikian pula seorang penulis selalu memiliki kecenderungan pilihan antara menulis fiksi atau non-fiksi. Melihat beberapa hal ini (terutama faktor-faktor yang berasal dari luar), paling tidak kita dapat mengetahui, atau juga mengarahkan pilihan kita atau orang lain dalam belajar menulis.
Sebagai penutup, tulisan ini sekali lagi memang tidak dimaksudkan untuk mengunggulkan atau menjelek-jelekkan baik tulisan fiksi atau non-fiksi. Sebagaimana menulis pada akhirnya lebih banyak berurusan dengan panggilan hati, menentukan fiksi atau non-fiksi juga tidak dapat dipaksakan. Yang lebih penting tentu adalah suarakan kebenaran, menulis dan menulislah!

Beberapa referensi:


  • Esai Andreas Harsono., Mengapa Jurnalisme Baru Ompong di Indonesia?
    Dari blog: http://andreasharsono.blogspot.com




  • Esai Alex R., Ketika Sastra Dibungkam maka Jurnalisme Harus Bicara.
    Dimuat di situs http://www.cybersastra.net/




  • N. J. Lindquist., Discover Fiction!
    Dimuat di situs : http://www.christianity.ca/



  • Share |

    Terbelenggu

    Memandang Aku Dengan Bijak; Meniadakan Keraguan di Hati.


    Saat jam istirahat, seorang rekan kerja menghampiriku dan mencari tahu apa yang sedang aku lakukan. Sekilas melihat judul di atas, diapun tersipu-sipu dan berkata, “Yulia, kamu sedang menulis artikel romance kah?” Hahaha…. Dia mungkin tak paham kalau saya sedang menulis artikel Dhamma… Nah, ini adalah pemisalan sederhana dari suatu pernyataan yang kadang-kala ditafsir secara berbeda. Begitu pula, dewasa ini telah muncul beraneka ragam tafsiran terhadap ajaran Buddha. Ketika Beliau mengajarkan tentang kekosongan dan tak ada hal apapun yang pantas dilekati dari sesuatu yang kosong/tak berisi, kita bimbang akan makna sesungguhnya sehingga beralih ke hal-hal lain yang lebih menjanjikan.
    Apa saja yang diajarkan Buddha? Pokok mana yang menjadi ciri khas ajaran Buddha? Ketika seseorang bertanya, beberapa dari kita dapat dengan senang hati memberikan suatu jawaban, karena kita dapat berkata kalau kita bukan lagi umat Buddhis KTP, lebih tepatnya, sudah di Visuddhi, lengkap dengan nama Buddhisnya pula. Haha… Sehingga jawaban kita sudah pasti ok. Ajaran Buddha sangat khusus, kita tidak hanya diajarkan tentang pedoman hidup yang mendasar seperti berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan, tetapi lebih dari itu. Jadi apa yang menjadi saran anda apabila pertanyaan diatas ditujukan pada diri anda? Saya kira masing-masing dari anda mempunyai berbagai saran yang bagus. Secara individual, saya menyarankan dua patah kata sebagai pokok yang harus kita perhatikan yakni “Tanpa Kemelekatan”. Kemelekatan pada apa? Kemelekatan pada “Aku(I am)”.
    Dalam artikel Upasaka & Upasika Ariya, saya banyak mengulas kutipan-kutipan dari Sutta sehingga bahasan tentang “diri” merupakan topik yang sangat berat. Dalam sharing kali ini, saya akan menyertakan beberapa contoh kejadian sehingga hal-hal yang berkaitan dengan “Aku” dapat dipahami dengan lebih baik. Buku-buku (kumpulan kotbah Buddha) menyediakan pengetahuan yang kita butuhkan dan merupakan kewajiban setiap praktisi Buddhis yang baik untuk memahami apa yang pernah disampaikan oleh Tathagata untuk kebaikan dirinya sendiri maupun orang banyak. Tetapi jangan berhenti sampai di sana. Bila demikian, kita dapat menjadi seorang ahli teori, ahli debat, ahli filsafat, atau psikolog ajaran Buddha saja.
    Kembali pada pembahasan tentang “Kemelekatan”. Bagaimana kemelekatan (clinging) dapat menimbulkan dukkha? Karena kita menginginkan sesuatu (craving)… yang timbul oleh suatu perasaan tertentu… akibat kontak (contact) indera dengan objeknya, yakni mata dengan bentuk yang dilihat, telinga dengan bunyi yang didengar dstnya… Contoh sederhana untuk penjelasan di atas, seorang anak kecil dibawa jalan-jalan oleh ibunya ke pasar, dia melihat mobil mainan yang bagus (contact), timbullah perasaan senang (feeling), karena menyenangi mainan itu, dia pun menginginkannya (craving), sedemikian kuat dia menginginkannya, sehingga dia tak mampu terlepas dari mainan itu (clinging), dan apabila dia tak dapat memilikinya, timbullah dukkha bagi dirinya. Demikianlah caranya saya memahami rangkaian hukum sebab musabab (Paticca Sampuppada) bahwa sesuatu yang timbul dikarenakan oleh sesuatu hal yang lainnya. Anda harus bijak mengenali suatu metode yang paling cocok untuk diri anda sendiri dalam mengatasi masalah-masalah anda.
    Kita diajari untuk tidak memandang bentuk, bunyi, bau, cita-rasa, sentuhan, dan objek-objek pikiran sebagai “Aku”, atau juga “Diriku” dan “Milikku”. Kita dikelilingi oleh berbagai macam bentuk, berbagai macam bunyi, berbagai macam bau dll… yang dapat kita lekati. Dan apabila kita tidak cukup waspada, hal-hal itu dapat membawa dukkha bagi kita. Misalnya di kantor, ketika anda harus berhadapan dengan rekan kerja yang tak bersimpati dengan anda, atau ketika anda dimarahi pelanggan dsbnya… seketika itu juga perasaan sedih dan kecewa muncul. Bahkan sesampainya di rumah, kita masih saja berkomat-kamit tentang perlakukan yang tak menyenangkan itu. Haha… Pernahkah anda diprasangkai melakukan sesuatu hal yang tidak pernah anda lakukan?
    Menjadi seorang pegawai baru, tidak mengherankan apabila orang-orang tak dapat sepenuhnya mempercayai diri anda. Ketika itu, seorang rekan kerja kehilangan sejumlah uang yang disimpannya dalam laci. Orang-orang mulai berbisik di antara mereka dan sesekali memandang ke arah anda. Bila anda adalah orang yang diprasangkai, bagaimana anda akan bertindak? Mengundurkan diri keesokan harinya, menangis di toilet, atau mengganti uang yang hilang dengan uang anda sendiri? Hahaha… Saya tidak melakukan yang manapun juga, kecuali merenungi Dhamma. Merenungi kembali ucapan Tathagata seperti merenungi kembali nasehat seorang ayah pada anaknya, yang dapat memberinya suatu kelegaan hati. Terlebih terhadap suatu kejahatan yang tidak anda lakukan, bagaimana mungkin hati anda dapat terganggu?
    Di dalam satu Sutta Buddha berkata pada Malunkyaputta seperti berikut : ‘Terhadap apa yang dilihat, hanyalah apa yang dilihat, terhadap apa yang didengar, hanyalah apa yang didengar, dstnya… Ketika Buddha mengatakan hal di atas, Beliau menginginkan kita untuk menjaga keseimbangan hati kita, dari berbagai perasaan yang timbul… terhadap bentuk/bunyi… yang tidak kita senangi, kita membencinya; sebaliknya terhadap bentuk/bunyi… yang kita senangi, kita ingin menggenggamnya (to hold) dan tak ingin melepaskannya.
    Tapi kita harus jeli memahami pernyataan Buddha. Misalnya ketika dimarahi atasan, kita tak boleh menganggap omelan atasan sebagai omong kosong belaka (bunyi hanyalah bunyi) dan mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali, kalau yang ini memang pantas untuk dimarahi. Haha… atau ketika kita dinasehati sesuatu hal yang baik, kita harus memberi perhatian. Intinya, maksud dari pernyataan Beliau adalah untuk menjaga hati kita. Atau ketika Beliau menasehati kita untuk bersifat jenuh (revulsion) pada indera dan objeknya… kiranya bukan maksud Beliau supaya kita tidak boleh melihat, tidak boleh mendengar, tidak boleh mencicipi dsbnya… tetapi berhati-hati terhadap keinginan (lust and desire) yang timbul dari hasil kontak.
    Kiranya setiap orang pernah dimarahi atau ditegur dalam kantor. Terlebih ketika anda masih baru dalam pekerjaan anda sehingga masih sering berbuat kesalahan-kesalahan. Saya juga mengalaminya, sampai kesekian kalinya, ketika ditegur lagi, saya hanya bisa tersenyum saja. Sampai-sampai senior saya tak dapat bertahan dan berkata, “Yulia, saya sedang marah sama kamu, kenapa kamu tersenyum sama saya. Saya jadi tak bisa marah-marah sama kamu.” Hahaha…. Jadi ketika pihak yang satu memberi sinyal kemarahan (energi api), anda membalasnya dengan sinyal keheningan (energi air), sehingga air dapat memadamkan api, dan dia pun tak sanggup marah-marah untuk waktu yang lama. Haha…
    Masalah-masalah ada di seputar kita dan kita diajak untuk mengenalinya sehingga kita dapat mengatasinya dengan cara yang lebih baik. Di kantor, ada dukkha seorang pegawai, di rumah ada dukkha orang rumahan, di organisasi juga ada dukkha berorganisasi. Tapi karena kita tak mampu mengenalinya, kita merasakan kalau dukkha yang kita alami lebih menyakitkan dari dukkha yang dialami siapapun juga sehingga dunia seakan-akan telah runtuh bagi kita. Bagaimana kita dapat memastikan kalau mereka yang barusan kehilangan orang-orang yang dicintai tidak lebih menyakitkan dari diri kita? Atau mereka yang gagal berinvestasi di Lehman tidak lebih menyedihkan sehingga untuk terus hidup pun harus berhutang kemana-mana? Atau juga mereka yang mengidap suatu penyakit akut tertentu? Dll? Sejak bekerja di Rumah Sakit, saya banyak melihat dukkha pasien dan cucuran air mata, ketika mereka diberitahu positip mengidap penyakit kanker dll. Jadi ketika kita mengetahui bahwa bukan diri kita saja yang memiliki masalah-masalah, tapi setiap orang juga memilikinya, di saat itu kita telah memahami Kesunyataan Mulia yang Pertama tentang dukkha. Kita memahami adanya dukkha (there is suffering) dan tidak lagi menjadikan dukkha itu sebagai dukkha pribadi (this is my suffering). Ada perbedaan besar di antara keduanya. Apabila anda masih kurang memahami, saya dapat menjelaskannya lewat cerita Kisagotami yang populer ini. Kisagotami yang mengalami kematian anak satu-satunya mengunjungi Buddha dan memohon kepada Beliau untuk menghidupkannya kembali. Namun Buddha memberinya syarat untuk mendapatkan biji dari rumah yang belum pernah sekalipun mengalami kematian. Dan akhir cerita, dia tidak berhasil. Akan tetapi timbul kebijaksanaan dalam dirinya. Dia memahami ada dukkha di setiap rumah dan dukkha timbul dari apa yang dilekatinya.
    Ada dua jenis dukkha yang diajarkan Buddha, yakni dukkha jasmani dan dukkha mental. Kita tak dapat berbuat banyak untuk mengatasi dukkha jasmani. Kita hanya dapat merawat jasmani ini semaksimal mungkin selama kita masih hidup, namun kita tak dapat memintanya untuk tidak menjadi tua, sakit dan mati. Ajaran Buddha bertujuan untuk mengatasi dukkha mental. Dukkha mental di sini bukan dukkha oleh suatu penyakit mental seperti hilang ingatan ataupun gila, namun oleh berbagai pandangan-pandangan salah yang kita genggam, yakni melekati apa yang sesungguhnya tidak menjadi milik kita sehingga bagi kebanyakan orang, tubuhnya sakit, batinnya juga ikut sakit.
    Saya selalu berkata tentang ‘bukan milik kita’, frase ini mungkin cukup sulit untuk dipahami bagi sebagian orang, jadi saya akan menyertakan suatu perumpamaan yang sederhana untuk dapat memahami hubungan antara dukkha, anicca dan anatta dengan lebih jelas. Contoh, kita berharap apabila pasangan kita senantiasa nampak menarik bagi kita, tapi pada kenyataannya pasangan kita semakin hari semakin jelek, tua, bau, ompong, penyakitan, ngompol lagi sana-sini, haha… Inilah aniccanya (mengalami perubahan), ketika kita melihat perubahan pasangan kita, kita merindukan masa-masa di kala pasangan kita masih kelihatan menarik dan muda… Tapi hal itu tidak mungkin, sehingga kita merasa kecewa dan mengeluh… Inilah dukkhanya (menderita karena perubahan). Terhadap apa yang senantiasa berubah dan membawakan kita penderitaan, bagaimana kita dapat mengatakan kalau mereka milik kita? Karena apabila mereka benar-benar milik kita, mereka dapat menuruti keinginan kita untuk tidak menjadi jelek, tua, bau, ompong dsbnya… Inilah anatta (bukan milik kita).
    Jadi karena melekati apa yang sesungguhnya tidak menjadi milik kita, tak jarang kita mengidap penyakit dukkha. Dalam keseharian kita, sebisanya kita berlatih untuk mengurangi kemelekatan , mulai dari hal-hal yang paling kecil. Misalnya saja, ketika bus/mobil kita macet di jalanan sehingga pada hari itu kita telat ke kantor. Bagi sebagian orang yang tak sabaran, walaupun kendaraannya tak bisa banyak bergerak, dia terus saja marah-marah, cakap kotor, terus saja melirik jam tangannya, dan tak henti-hentinya memencet bel. Kacau kan? Apabila kita memang tak dapat banyak berbuat, ya sudah, terima kenyataan kalau kita memang telat pada hari itu. Seberapa panjang kita mengomel, marah-marah, atau walaupun kita melirik jam tangan setiap sedetik sekalipun, kita memang telat. Tapi orang-orang tak dapat menerima dan menjadi gelisah berlebihan walaupun dia tak dapat banyak berbuat. Terhadap hal-hal kecil saja kita tak mampu mengurangi kemelekatan, sejauh mana kesiapan hati kita dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan yang lebih besar lainnya? Seberapa siap hati kita apabila kita didiagnosis positip mengidap kanker? Atau seberapa siap hati kita apabila pasangan kita suatu hari kelak meninggalkan kita? Atau seberapa siap hati kita apabila kita menjadi bangkrut suatu hari? Dan yang paling berat, seberapa siap hati kita saat-saat menjelang kematian nanti? Saya sering mendengar cerita dari para sahabat tentang sanak keluarga mereka yang tak sudi mati, walaupun tubuhnya sudah tak dapat lagi menopang hidupnya, tapi nafas tak mau putus. Apabila kita tak berlatih untuk mengurangi kemelekatan sedini mungkin, maka kita akan mengalami hal yang sama saat kematian nanti. Sedemikian kuat kita melekati tubuh kita sehingga kita tak mampu berpisah darinya, walaupun tubuh tersebut telah menjadi tua, berpenyakitan, kering dan tak lagi dapat menopang hidup kita. Hampir semua orang mencintai kehidupannya, tapi kita tak dapat mengelak untuk tidak mati dan hidup dalam keabadian (whatever is subject to origination is all subject to cessation). Jadi berlatihlah sedini mungkin, mulai dari masalah-masalah kecil di sekeliling kita.
    Ketika kita telah memahami pandangan tentang diri maka secara otomatis kita terbebas dari keraguan pandangan. Kita memahami penyebab munculnya hal yang satu ke satu hal yang lain, kita memahami perubahan dan ketidak kekalan. Di saat keraguan telah ditinggalkan, di saat itu pula, kita tidak membutuhkan lagi peraturan-peraturan yang bersifat duniawi. Kita tidak perlu lagi tidur semalaman dalam peti mati untuk menepis kamma buruk, suatu trend baru yang sedang ngetop belakangan ini. Ada beragam jasa yang ditawarkan. Apabila anda ingin dibacakan paritta suci, biayanya lain lagi. Ini salah satu contoh bagaimana ajaran Buddha telah dikacaukan sedemikian rupa oleh segelintir orang yang mengaku sebagai pengikut Buddha. Teruk ya…..
    Belakangan ini ramai orang menjadi trauma akibat krisis ekonomi sehingga jumlah pengunjung di kelenteng-kelenteng telah bertambah berkali-kali lipat dari yang biasanya. Dalam keputus-asaan, orang-orang mulai mencari bantuan dewa mereka. Seperti adik saya, kalau sudah mendekati masa ujian, dia akan bersembahyang ke kelenteng barengan teman-temannya. Sehingga saya harus menjelaskan pada dia, seandainya kamu meminta untuk jadi juara 1 di kelas, dan temanmu yang lain juga meminta hal yang sama. Kepada siapakah sang dewa harus memilih? Kepada kamu kah? Atau teman kamu? Bersembahyang ya bersembahyang dulu. Selanjutnya tergantung usaha dong, begitu jawabnya. Nah itulah kuncinya, usaha menjadi faktor penentunya, bukan yang lainnya. Tapi dia masih saja terus bersembahyang… Haha… Anda akan menjadi orang yang sangat berbahagia tatkala diri anda tidak lagi terikat dengan berbagai peraturan karena anda dapat menghemat biaya, tenaga dan waktu yang dapat anda gunakan untuk hal-hal lain.
    Demikianlah hendaknya kita senantiasa merenungi ketidak-kekalan dari segala sesuatu, yang kosong dan tak berisi. Semakin sering kita merenungi, kemelekatan kita pada apa yang kita anggap sebagai “Aku” akan berkurang dengan sendirinya. Inspirasi Buddha dapat ditemui di Okkanti Samyutta. Di sana Beliau berkata bahwa siapapun yang senantiasa merenungi ketidak-kekalan dalam hidupnya, dengan kata lain, perenungan itu dilakukan secara intensif, maka dia tak dapat meninggal dunia tanpa matang dalam buah kesucian Sotapanna. Kembali di Sutta yang lain, Velama Sutta, Beliau mengatakan bahwa perenungan terhadap ketidak-kekalan (impermanence) yang sesingkat jentikan jari saja memberikan pahala yang sangat besar. Mengapa? Karena perenungan pada ketidak-kekalan dapat membawa seseorang pada akhir dari dukkha, maksimal 7 kali kelahiran lagi untuk mereka yang dapat memahaminya pada tingkat yang paling mendasar.
    Kita dapat menilai perkembangan diri sendiri. Apabila kita masih saja seorang pemberang, pencemburu, pendendam, maka kita dapat pasti kalau kita belum memahami ajaran tanpa diri. Apabila kita masih belum terlatih dalam Sila, maka kita dapat pasti kalau kita belum lagi memahami ajaran tanpa diri. Kalau kita masih saja kikir, maka kita dapat pasti kalau kita belum juga memahami ajaran tanpa diri. Mereka yang telah mematahkan belenggu tentang diri tak dapat menjadi seorang pemberang, pencemburu, dan pendendam. Dan mereka yang mengasihi tak dapat melakukan pelanggaran Sila. Mereka yang terlatih dalam Sila, memahami manfaat-manfaat dari persembahan, dan tak dapat menjadi kikir. Demikian caranya kita dapat mengukur perkembangan diri kita sendiri.
    Mari bersama-sama kita belajar melepas (letting go)… Bahkan Buddha pun berkata, “Dhamma hanya bertujuan sebagai rakit yang digunakan untuk menyeberang saja, terhadap Dhamma pun kalian tidak seharusnya melekat, terlebih terhadap hal-hal yang bukan Dhamma (sudah sepantasnya untuk dilepaskan).” Mudah-mudahan sharing ini tidak terlalu berat. Semoga bermanfaat… 
    Share |
     
    Copyright © 2011 From P-MEN

    Regards for World and for Green My World

    Ant Activist With Love for All