Showing posts with label Islam Itu Indah. Show all posts
Showing posts with label Islam Itu Indah. Show all posts

Nafsu Syahwat dapat Dipengaruhi Oleh Gen

Besar kecilnya keinginan untuk melakukan hubungan seksual mungkin diatur oleh gen, demikian pernyataan para peneliti baru-baru ini. Temuan ini mungkin akan memperkaya bagaimana pandangan para psikolog mengenai aktivitas seksual.
"Ini merupakan penelitian pertama yang menghasilkan data adanya variasi kode DNA yang mempengaruhi nafsu, daya tarik, dan fungsi seksualnya," kata para peneliti yang dilaporkan dalam  jurnal online Molecular Psychiatry. Mereka menemukan bahwa perbedaan sifat genetik juga menjadi penyebab mengapa nafsu seksual setiap orang berbeda-beda.
Pada penelitian  yang dipimpin Richard Ebstein di Universitas Hebron, Jerusalem, para ilmuwan mempelajari DNA 148 mahasisiswa pria dan wanita sehat. Hasil pengamatannya dibandingkan dengan jawaban kuesioner mengenai tingkat kepercayaan diri untuk melakukan hubungan seksual, daya tariknya, dan kemampuannya melakukan hubungan seksual. Dari perbandingan tersebut ditemukan hubungan antara variasi gen yang disebut reseptor D4 dan pendapat masing-masing mahasiswa terhadap kualitas seksualnya.
Share |

Islam dan Vegetarisme

Sebuah kajian cermat terhadap ajaran Islam mengungkapkan, bahwa Islam adalah agama yang penuh welas dan asih, terutama ajaran yang berkaitan dengan kesejahteraan hewan. Islam tidak melarang vegetarisme. Patut diperhatikan bahwa banyak negara Islam sekarang ini mulai sadar akan manfaat dari diet vegetarian dan melihat bahwa vegetarisme dibenarkan oleh kepercayaan Islam. Misalnya, negara Islam fundamental Iran adalah pusat dari Masyarakat Vegetarian Iran ( Iranian Vegetarian Society ), yang sangat aktif dalam mempromosikan manfaat diet vegetarian murni di dunia Islam modern, baik itu ditinjau dari sudut kesehatan maupun kesejahteraan hewan. 



Pada tahun 1995, sebuah Masyarakat Vegan / Vegetarian Muslim dibentuk di Inggris, yang mempromosikan vegetarisme sesuai dengan ajaran Alquran dan menunjukkan bagaimana kebaikan hati dan kewelasasihan kepada hewan adalah kebajikan yang diterangkan secara rinci oleh Islam.


Kitab Suci Alquran dan Welas Asih terhadap Hewan.


Banyak ayat dalam Kitab Suci Alquran yang mengacu pada kesucian hidup hewan dan hak-hak hewan yang sederajat untuk hidup dalam damai, mencari Tuhan, dan berkembang menuju kesadaran Tuhan, serta serupa dengan manusia di planet ini.


Tiada makhluk yang merayap di bumi, tiada burung yang terbang dengan sayap-sayapnya, melainkan mereka adalah umat-umat yang serupa dengan kamu. Kami tidak mengalpakan sesuatu di dalam Alquran, kemudian kepada Pemelihara mereka, mereka akan dikumpulkan.” ( Surah 6:38 ).


Tidakkah kamu melihat bagaimana segala yang di langit dan di bumi menyanjung Allah, dan burung - burung mengembangkan sayap - sayap mereka? Masing - masing - Dia mengetahui solatnya, dan sanjungannya, dan Allah mengetahui apa yang mereka buat. (Surah 24:41 ).


Hewan membentuk komunitas dan pada saat yang sama menawarkan pelayanan mereka kepada
umat manusia. Kitab Suci Alquran sama sekali tidak menganjurkan agar kita menjadi pencabut nyawa mereka:


"...Begitulah Kami menundukkan mereka untuk kamu, supaya kamu berterima kasih." (Surah 22:36 )
Dia yang melantik kamu khalifah - khalifah ( pengganti - pengganti ) di bumi.” ( Surah 35:39 )
Kitab Suci Alquran menekankan bahwa hewan dan manusia memiliki hak yang sama terhadap kekayaan bumi ( lihat Surah 25:48-49, 32:27, 79:31-33 ), juga mengatakan bahwa di mata Tuhan, mereka sama dengan manusia, dan Ia berkomunikasi dengan mereka dengan cara yang sama persis dengan manusia:


Dan Pemelihara kamu mewahyukan lebah, "Ambillah untuk kamu daripada gunung - gunung, rumah - rumah, dan daripada pokok-pokok, dan daripada apa yang mereka membangunkan. " ( Surah 16:68 ).


Kitab Suci Alquran menggunakan kata Arab yang sama, “Wahi,” untuk wahyu Tuhan kepada semua Rasul - Nya, termasuk Nabi Muhammad. Bentuk sebutan ini juga digunakan dalam kasus lebah, yang menunjukkan bahwa hewan memiliki tingkat anugerah kekuatan batin yang cukup untuk mengerti dan mengikuti Pesan Tuhan. Lebih jauh lagi, terdapat banyak ayat dalam Kitab Suci Alquran di mana Tuhan menekankan penggunaan buah - buahan dan sayur - sayuran untuk kelangsungan hidup, baik kepada manusia maupun kepada hewan (Surah 6:141, 6:151, 16:67, Surah 23:19 ) dan juga untuk mencapai kesehatan dan lingkungan hidup yang lebih baik bagi umat Islam.


Hadis – Ajaran Hidup dari Nabi dan Orang Suci Islam.


Hadis (yang berarti “tradisi”) dalam Islam mengacu kepada catatan ajaran Nabi Muhammad. Hadis biasanya diajarkan dalam budaya Islam sebagai bagian dari ajaranteologi Islam.


Banyak kitab Hadis dari kehidupan Nabi Muhammad dan juga Orang Suci Islam lainnya menyampaikan kewelasasihan dan kebaikan hati yang dalam kepada hewan dan menganjurkan bahwa tugas utama dari semua umat Islam adalah mengurus kesejahteraan para hewan.


Sang Nabi juga menekankan pentingnya dan pengaruh diet berbasis sayuran, bahkan melarang penggunaan kulit hewan:


“Jangan biarkan perutmu menjadi kuburan!”
“Satu perbuatan baik yang dilakukan kepada seekor hewan sama pahalanya dengan perbuatan baik yang dilakukan kepada seorang manusia, sementara tindak kekejaman kepada seekor hewan sama buruknya dengan tindak kekejaman kepada seorang manusia.” Semua makhluk adalah seperti sebuah keluarga ( Ayal ) Tuhan: dan Ia paling menyayangi mereka yang paling dermawan kepada keluarga - Nya.”


Ia yang menaruh belas kasihan ( bahkan ) kepada seekor burung pipit dan menyelamatkan nyawanya, maka Allah akan mengampuninya pada Hari Kiamat.” “Allah tidak akan mengasihani siapa pun, kecuali kepada mereka yang mengasihani makhluk lain. Di mana ada sayur yang melimpah-limpah, sekumpulan besar malaikat akan turun ke tempat tersebut." 


Banyak Sufi ( golongan Muslim esoterik ) mempertahankan bahwa vegetarisme sepenuhnya sesuai dengan prinsip dan doktrin Islam. Sufi Qadiri shaikh Abdul Karim Jili, memberi komentar atas nasihat Ibn Arabi untuk menghindari lemak hewan selama retret, dengan menyatakan bahwa “lemak hewan memperkuat sifat kehewanan, dan hakikatnya akan mendominasi hakikat spiritual. Demikian pula, Sufi Chishti Inayat Khan, yang memperkenalkan prinsip - prinsip Sufi ke Eropa dan Amerika di awal tahun 1900-an. Beliau mengamati bahwa vegetarisme meningkatkan rasa belas kasihan dan tindakan tidak menyakiti makhluk hidup, dan diet vegetarian dapat membantu pembersihan badan serta perbaikan spiritual. Guru Sufi Qadiri Sri Lanka abad ini, Bawa Muhaiyaddeen juga mendorongvegetarisme dengan menyatakan bahwa kesombongan dan kemarahan dapat berkurang jika seseorang menghilangkan daging dari makanannya. Ia mengajarkan bahwa konsumsi daging menambah kualitas kehewanan dalam diri manusia, sementara konsumsi tumbuh - tumbuhan dan produk susu meningkatkan kualitas ketenangan.


Ia memperhatikan bahwa peraturan Islam yang menyinggung bahwa konsep penyembelihan hewan yang benar berpengaruh pada pengurangan jumlah hewan yang dibunuh untuk dimakan. Berkenaan dengan konsep Kurban ( pengorbanan hewan ) dalam Islam, Bawa berkata: Pada suatu ketika Rasul Allah berkata kepada keponakan-Nya, ‘Ali, Oh Ali, kamu semestinya tidak memakan daging. Jika kamu memakan daging selama 40 hari, maka kualitas itu akan masuk ke dalam dirimu. Karena itu, kualitas kemanusiaanmu akan berubah, kualitas welas asihmu akan berubah, dan inti sari tubuhmu juga berubah. Pada masa itu, orang Arab biasanya memiliki lembu, unta, kambing, ghee ( semacam mentega ), kurma, tepung gandum, dan sebagainya. Mereka tidak memiliki sayuran atau kari. Zaman itu adalah zaman makan daging. Lalu Rasul Muhammad datang. Ia tidak dapat menyuruh mereka untuk tidak makan daging sama sekali, karena itu adalah satu - satunya makanan mereka. Ia tidak dapat menyuruh mereka untuk tidak makan daging, karena mereka akan membunuhnya. Karena itu, Ia harus memberitahu mereka dengan perlahan - lahan dan menjelaskan kepada mereka sedikit demi sedikit.


Kurban, atau perintah mengucapkan Syahadat Ketiga saat menyembelih hewan secara ritual, juga diturunkan untuk menghentikan pembunuhan ini. Dan seperti ini, perbedaan antaraHaram ( tidak diperbolehkan ) dan Halal ( diperbolehkan ) diturunkan. Semua Nabi datang untuk memperbaiki orang-orang secara perlahan - lahan, untuk mengurangi jumlah pembunuhan secara berangsur - angsur, mengurangi tindakan melawan perintah Tuhan, dan sedikit demi sedikit mengurangi kesombongan. Berangsur - angsur, sedikit demi sedikit, hal ini dikurangi.


Penyair Sufi Abad ke-15 Kabir Sahib dengan tegas mengutuk makan daging. Beliau menggolongkan konsumsi daging sebagai kegagalan terbesar kewelasasihan. Ia menyatakan, bahkan berteman dengan pemakan daging dapat membahayakan jiwa. Ia menekankan bahwa daripada membunuh hewan, kita seharusnya “membantai” lima nafsu yaitu nafsu syahwat, ketamakan, kemelekatan, kemarahan, dan keangkuhan:


Wahai Muslimat dan Muslimin, Aku melihatmu berpuasa di siang hari, Akan tetapi, untuk berbuka puasa, engkau menyembelih sapi pada malam harinya. Di satu sisi ketakwaan, di sisi lain pembunuhan – Bagaimana Tuhan dapat berkenan? Syarikku, panjatkan doa untuk menebas leher kemurkaan, Dan bantai kehancuran karena keberingasan buta, Karena ia yang membunuh lima nafsu, Nafsu syahwat, kemarahan, ketamakan, kemelekatan, dan keangkuhan, Pasti akan berhadapan muka dengan Tuhan Tertinggi. ( dari “Mengenai Makan Daging,” dikutip dari Kabir, Mistik Agung )


Epilog :


Dari ajaran Nabi Muhammad Saw dan Orang Suci Islam lainnya, jelas bahwa Islam memandang belas kasihan terhadap hewan sebagai suatu tanggung jawab umat manusia. Penelitian baru-baru ini bahkan telah menunjukkan bahwa praktik pengorbanan hewan ( kurban ) untuk perayaan hari raya Islam tertentu tidak lagi direkomendasikan, atas dasar pertimbangan akan penderitaan hewan dan juga keprihatinan akan kesehatan manusia. Kitab Suci Alquran sangat jelas menerangkan bahwa tindakan pengorbanan adalah sikap simbolis kedermawanan manusia dan pemberian amal; dan bahwa membunuh hewan dan mempersembahkan daging mereka sama sekali tidak memberikan keselamatan bagi umat manusia:


Dagingnya tidak akan sampai kepada Allah, dan tidak juga darahnya, tetapi ketakwaanmu yang akan sampai kepada-Nya. Begitulah Dia menundukkan mereka untuk kamu, supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia telah memberikan kamu. Dan kamu berilah berita gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” Surah 22:37 ).


Dalam kebangkitan kesadaran yang lebih tinggi mengenai isu - isu ini, beberapa cendekiawan Muslim telah mengindikasikan bahwa suatu hari akan tiba saatnya umat Muslim akan mengganti pemberian amal dengan cara lain, sebagai ganti ritual pengorbanan hewan. Artikel pendek ini menunjukkan bahwa tidak peduli bagaimana kepercayaan umum dan praktik yang dijalankan oleh banyak umat Muslim, kepercayaan dan ajaran Islam dengan kuat mengakui kesucian kehidupan hewan. Islam tidak pernah menyuruh manusia untuk membunuh hewan dan memakan dagingnya.


Kitab Suci Alquran dan banyak Orang Suci Muslim menekankan manfaat dari dietvegetarian dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia serta ekologi.
Share |

Terbelenggu

Memandang Aku Dengan Bijak; Meniadakan Keraguan di Hati.


Saat jam istirahat, seorang rekan kerja menghampiriku dan mencari tahu apa yang sedang aku lakukan. Sekilas melihat judul di atas, diapun tersipu-sipu dan berkata, “Yulia, kamu sedang menulis artikel romance kah?” Hahaha…. Dia mungkin tak paham kalau saya sedang menulis artikel Dhamma… Nah, ini adalah pemisalan sederhana dari suatu pernyataan yang kadang-kala ditafsir secara berbeda. Begitu pula, dewasa ini telah muncul beraneka ragam tafsiran terhadap ajaran Buddha. Ketika Beliau mengajarkan tentang kekosongan dan tak ada hal apapun yang pantas dilekati dari sesuatu yang kosong/tak berisi, kita bimbang akan makna sesungguhnya sehingga beralih ke hal-hal lain yang lebih menjanjikan.
Apa saja yang diajarkan Buddha? Pokok mana yang menjadi ciri khas ajaran Buddha? Ketika seseorang bertanya, beberapa dari kita dapat dengan senang hati memberikan suatu jawaban, karena kita dapat berkata kalau kita bukan lagi umat Buddhis KTP, lebih tepatnya, sudah di Visuddhi, lengkap dengan nama Buddhisnya pula. Haha… Sehingga jawaban kita sudah pasti ok. Ajaran Buddha sangat khusus, kita tidak hanya diajarkan tentang pedoman hidup yang mendasar seperti berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan, tetapi lebih dari itu. Jadi apa yang menjadi saran anda apabila pertanyaan diatas ditujukan pada diri anda? Saya kira masing-masing dari anda mempunyai berbagai saran yang bagus. Secara individual, saya menyarankan dua patah kata sebagai pokok yang harus kita perhatikan yakni “Tanpa Kemelekatan”. Kemelekatan pada apa? Kemelekatan pada “Aku(I am)”.
Dalam artikel Upasaka & Upasika Ariya, saya banyak mengulas kutipan-kutipan dari Sutta sehingga bahasan tentang “diri” merupakan topik yang sangat berat. Dalam sharing kali ini, saya akan menyertakan beberapa contoh kejadian sehingga hal-hal yang berkaitan dengan “Aku” dapat dipahami dengan lebih baik. Buku-buku (kumpulan kotbah Buddha) menyediakan pengetahuan yang kita butuhkan dan merupakan kewajiban setiap praktisi Buddhis yang baik untuk memahami apa yang pernah disampaikan oleh Tathagata untuk kebaikan dirinya sendiri maupun orang banyak. Tetapi jangan berhenti sampai di sana. Bila demikian, kita dapat menjadi seorang ahli teori, ahli debat, ahli filsafat, atau psikolog ajaran Buddha saja.
Kembali pada pembahasan tentang “Kemelekatan”. Bagaimana kemelekatan (clinging) dapat menimbulkan dukkha? Karena kita menginginkan sesuatu (craving)… yang timbul oleh suatu perasaan tertentu… akibat kontak (contact) indera dengan objeknya, yakni mata dengan bentuk yang dilihat, telinga dengan bunyi yang didengar dstnya… Contoh sederhana untuk penjelasan di atas, seorang anak kecil dibawa jalan-jalan oleh ibunya ke pasar, dia melihat mobil mainan yang bagus (contact), timbullah perasaan senang (feeling), karena menyenangi mainan itu, dia pun menginginkannya (craving), sedemikian kuat dia menginginkannya, sehingga dia tak mampu terlepas dari mainan itu (clinging), dan apabila dia tak dapat memilikinya, timbullah dukkha bagi dirinya. Demikianlah caranya saya memahami rangkaian hukum sebab musabab (Paticca Sampuppada) bahwa sesuatu yang timbul dikarenakan oleh sesuatu hal yang lainnya. Anda harus bijak mengenali suatu metode yang paling cocok untuk diri anda sendiri dalam mengatasi masalah-masalah anda.
Kita diajari untuk tidak memandang bentuk, bunyi, bau, cita-rasa, sentuhan, dan objek-objek pikiran sebagai “Aku”, atau juga “Diriku” dan “Milikku”. Kita dikelilingi oleh berbagai macam bentuk, berbagai macam bunyi, berbagai macam bau dll… yang dapat kita lekati. Dan apabila kita tidak cukup waspada, hal-hal itu dapat membawa dukkha bagi kita. Misalnya di kantor, ketika anda harus berhadapan dengan rekan kerja yang tak bersimpati dengan anda, atau ketika anda dimarahi pelanggan dsbnya… seketika itu juga perasaan sedih dan kecewa muncul. Bahkan sesampainya di rumah, kita masih saja berkomat-kamit tentang perlakukan yang tak menyenangkan itu. Haha… Pernahkah anda diprasangkai melakukan sesuatu hal yang tidak pernah anda lakukan?
Menjadi seorang pegawai baru, tidak mengherankan apabila orang-orang tak dapat sepenuhnya mempercayai diri anda. Ketika itu, seorang rekan kerja kehilangan sejumlah uang yang disimpannya dalam laci. Orang-orang mulai berbisik di antara mereka dan sesekali memandang ke arah anda. Bila anda adalah orang yang diprasangkai, bagaimana anda akan bertindak? Mengundurkan diri keesokan harinya, menangis di toilet, atau mengganti uang yang hilang dengan uang anda sendiri? Hahaha… Saya tidak melakukan yang manapun juga, kecuali merenungi Dhamma. Merenungi kembali ucapan Tathagata seperti merenungi kembali nasehat seorang ayah pada anaknya, yang dapat memberinya suatu kelegaan hati. Terlebih terhadap suatu kejahatan yang tidak anda lakukan, bagaimana mungkin hati anda dapat terganggu?
Di dalam satu Sutta Buddha berkata pada Malunkyaputta seperti berikut : ‘Terhadap apa yang dilihat, hanyalah apa yang dilihat, terhadap apa yang didengar, hanyalah apa yang didengar, dstnya… Ketika Buddha mengatakan hal di atas, Beliau menginginkan kita untuk menjaga keseimbangan hati kita, dari berbagai perasaan yang timbul… terhadap bentuk/bunyi… yang tidak kita senangi, kita membencinya; sebaliknya terhadap bentuk/bunyi… yang kita senangi, kita ingin menggenggamnya (to hold) dan tak ingin melepaskannya.
Tapi kita harus jeli memahami pernyataan Buddha. Misalnya ketika dimarahi atasan, kita tak boleh menganggap omelan atasan sebagai omong kosong belaka (bunyi hanyalah bunyi) dan mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali, kalau yang ini memang pantas untuk dimarahi. Haha… atau ketika kita dinasehati sesuatu hal yang baik, kita harus memberi perhatian. Intinya, maksud dari pernyataan Beliau adalah untuk menjaga hati kita. Atau ketika Beliau menasehati kita untuk bersifat jenuh (revulsion) pada indera dan objeknya… kiranya bukan maksud Beliau supaya kita tidak boleh melihat, tidak boleh mendengar, tidak boleh mencicipi dsbnya… tetapi berhati-hati terhadap keinginan (lust and desire) yang timbul dari hasil kontak.
Kiranya setiap orang pernah dimarahi atau ditegur dalam kantor. Terlebih ketika anda masih baru dalam pekerjaan anda sehingga masih sering berbuat kesalahan-kesalahan. Saya juga mengalaminya, sampai kesekian kalinya, ketika ditegur lagi, saya hanya bisa tersenyum saja. Sampai-sampai senior saya tak dapat bertahan dan berkata, “Yulia, saya sedang marah sama kamu, kenapa kamu tersenyum sama saya. Saya jadi tak bisa marah-marah sama kamu.” Hahaha…. Jadi ketika pihak yang satu memberi sinyal kemarahan (energi api), anda membalasnya dengan sinyal keheningan (energi air), sehingga air dapat memadamkan api, dan dia pun tak sanggup marah-marah untuk waktu yang lama. Haha…
Masalah-masalah ada di seputar kita dan kita diajak untuk mengenalinya sehingga kita dapat mengatasinya dengan cara yang lebih baik. Di kantor, ada dukkha seorang pegawai, di rumah ada dukkha orang rumahan, di organisasi juga ada dukkha berorganisasi. Tapi karena kita tak mampu mengenalinya, kita merasakan kalau dukkha yang kita alami lebih menyakitkan dari dukkha yang dialami siapapun juga sehingga dunia seakan-akan telah runtuh bagi kita. Bagaimana kita dapat memastikan kalau mereka yang barusan kehilangan orang-orang yang dicintai tidak lebih menyakitkan dari diri kita? Atau mereka yang gagal berinvestasi di Lehman tidak lebih menyedihkan sehingga untuk terus hidup pun harus berhutang kemana-mana? Atau juga mereka yang mengidap suatu penyakit akut tertentu? Dll? Sejak bekerja di Rumah Sakit, saya banyak melihat dukkha pasien dan cucuran air mata, ketika mereka diberitahu positip mengidap penyakit kanker dll. Jadi ketika kita mengetahui bahwa bukan diri kita saja yang memiliki masalah-masalah, tapi setiap orang juga memilikinya, di saat itu kita telah memahami Kesunyataan Mulia yang Pertama tentang dukkha. Kita memahami adanya dukkha (there is suffering) dan tidak lagi menjadikan dukkha itu sebagai dukkha pribadi (this is my suffering). Ada perbedaan besar di antara keduanya. Apabila anda masih kurang memahami, saya dapat menjelaskannya lewat cerita Kisagotami yang populer ini. Kisagotami yang mengalami kematian anak satu-satunya mengunjungi Buddha dan memohon kepada Beliau untuk menghidupkannya kembali. Namun Buddha memberinya syarat untuk mendapatkan biji dari rumah yang belum pernah sekalipun mengalami kematian. Dan akhir cerita, dia tidak berhasil. Akan tetapi timbul kebijaksanaan dalam dirinya. Dia memahami ada dukkha di setiap rumah dan dukkha timbul dari apa yang dilekatinya.
Ada dua jenis dukkha yang diajarkan Buddha, yakni dukkha jasmani dan dukkha mental. Kita tak dapat berbuat banyak untuk mengatasi dukkha jasmani. Kita hanya dapat merawat jasmani ini semaksimal mungkin selama kita masih hidup, namun kita tak dapat memintanya untuk tidak menjadi tua, sakit dan mati. Ajaran Buddha bertujuan untuk mengatasi dukkha mental. Dukkha mental di sini bukan dukkha oleh suatu penyakit mental seperti hilang ingatan ataupun gila, namun oleh berbagai pandangan-pandangan salah yang kita genggam, yakni melekati apa yang sesungguhnya tidak menjadi milik kita sehingga bagi kebanyakan orang, tubuhnya sakit, batinnya juga ikut sakit.
Saya selalu berkata tentang ‘bukan milik kita’, frase ini mungkin cukup sulit untuk dipahami bagi sebagian orang, jadi saya akan menyertakan suatu perumpamaan yang sederhana untuk dapat memahami hubungan antara dukkha, anicca dan anatta dengan lebih jelas. Contoh, kita berharap apabila pasangan kita senantiasa nampak menarik bagi kita, tapi pada kenyataannya pasangan kita semakin hari semakin jelek, tua, bau, ompong, penyakitan, ngompol lagi sana-sini, haha… Inilah aniccanya (mengalami perubahan), ketika kita melihat perubahan pasangan kita, kita merindukan masa-masa di kala pasangan kita masih kelihatan menarik dan muda… Tapi hal itu tidak mungkin, sehingga kita merasa kecewa dan mengeluh… Inilah dukkhanya (menderita karena perubahan). Terhadap apa yang senantiasa berubah dan membawakan kita penderitaan, bagaimana kita dapat mengatakan kalau mereka milik kita? Karena apabila mereka benar-benar milik kita, mereka dapat menuruti keinginan kita untuk tidak menjadi jelek, tua, bau, ompong dsbnya… Inilah anatta (bukan milik kita).
Jadi karena melekati apa yang sesungguhnya tidak menjadi milik kita, tak jarang kita mengidap penyakit dukkha. Dalam keseharian kita, sebisanya kita berlatih untuk mengurangi kemelekatan , mulai dari hal-hal yang paling kecil. Misalnya saja, ketika bus/mobil kita macet di jalanan sehingga pada hari itu kita telat ke kantor. Bagi sebagian orang yang tak sabaran, walaupun kendaraannya tak bisa banyak bergerak, dia terus saja marah-marah, cakap kotor, terus saja melirik jam tangannya, dan tak henti-hentinya memencet bel. Kacau kan? Apabila kita memang tak dapat banyak berbuat, ya sudah, terima kenyataan kalau kita memang telat pada hari itu. Seberapa panjang kita mengomel, marah-marah, atau walaupun kita melirik jam tangan setiap sedetik sekalipun, kita memang telat. Tapi orang-orang tak dapat menerima dan menjadi gelisah berlebihan walaupun dia tak dapat banyak berbuat. Terhadap hal-hal kecil saja kita tak mampu mengurangi kemelekatan, sejauh mana kesiapan hati kita dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan yang lebih besar lainnya? Seberapa siap hati kita apabila kita didiagnosis positip mengidap kanker? Atau seberapa siap hati kita apabila pasangan kita suatu hari kelak meninggalkan kita? Atau seberapa siap hati kita apabila kita menjadi bangkrut suatu hari? Dan yang paling berat, seberapa siap hati kita saat-saat menjelang kematian nanti? Saya sering mendengar cerita dari para sahabat tentang sanak keluarga mereka yang tak sudi mati, walaupun tubuhnya sudah tak dapat lagi menopang hidupnya, tapi nafas tak mau putus. Apabila kita tak berlatih untuk mengurangi kemelekatan sedini mungkin, maka kita akan mengalami hal yang sama saat kematian nanti. Sedemikian kuat kita melekati tubuh kita sehingga kita tak mampu berpisah darinya, walaupun tubuh tersebut telah menjadi tua, berpenyakitan, kering dan tak lagi dapat menopang hidup kita. Hampir semua orang mencintai kehidupannya, tapi kita tak dapat mengelak untuk tidak mati dan hidup dalam keabadian (whatever is subject to origination is all subject to cessation). Jadi berlatihlah sedini mungkin, mulai dari masalah-masalah kecil di sekeliling kita.
Ketika kita telah memahami pandangan tentang diri maka secara otomatis kita terbebas dari keraguan pandangan. Kita memahami penyebab munculnya hal yang satu ke satu hal yang lain, kita memahami perubahan dan ketidak kekalan. Di saat keraguan telah ditinggalkan, di saat itu pula, kita tidak membutuhkan lagi peraturan-peraturan yang bersifat duniawi. Kita tidak perlu lagi tidur semalaman dalam peti mati untuk menepis kamma buruk, suatu trend baru yang sedang ngetop belakangan ini. Ada beragam jasa yang ditawarkan. Apabila anda ingin dibacakan paritta suci, biayanya lain lagi. Ini salah satu contoh bagaimana ajaran Buddha telah dikacaukan sedemikian rupa oleh segelintir orang yang mengaku sebagai pengikut Buddha. Teruk ya…..
Belakangan ini ramai orang menjadi trauma akibat krisis ekonomi sehingga jumlah pengunjung di kelenteng-kelenteng telah bertambah berkali-kali lipat dari yang biasanya. Dalam keputus-asaan, orang-orang mulai mencari bantuan dewa mereka. Seperti adik saya, kalau sudah mendekati masa ujian, dia akan bersembahyang ke kelenteng barengan teman-temannya. Sehingga saya harus menjelaskan pada dia, seandainya kamu meminta untuk jadi juara 1 di kelas, dan temanmu yang lain juga meminta hal yang sama. Kepada siapakah sang dewa harus memilih? Kepada kamu kah? Atau teman kamu? Bersembahyang ya bersembahyang dulu. Selanjutnya tergantung usaha dong, begitu jawabnya. Nah itulah kuncinya, usaha menjadi faktor penentunya, bukan yang lainnya. Tapi dia masih saja terus bersembahyang… Haha… Anda akan menjadi orang yang sangat berbahagia tatkala diri anda tidak lagi terikat dengan berbagai peraturan karena anda dapat menghemat biaya, tenaga dan waktu yang dapat anda gunakan untuk hal-hal lain.
Demikianlah hendaknya kita senantiasa merenungi ketidak-kekalan dari segala sesuatu, yang kosong dan tak berisi. Semakin sering kita merenungi, kemelekatan kita pada apa yang kita anggap sebagai “Aku” akan berkurang dengan sendirinya. Inspirasi Buddha dapat ditemui di Okkanti Samyutta. Di sana Beliau berkata bahwa siapapun yang senantiasa merenungi ketidak-kekalan dalam hidupnya, dengan kata lain, perenungan itu dilakukan secara intensif, maka dia tak dapat meninggal dunia tanpa matang dalam buah kesucian Sotapanna. Kembali di Sutta yang lain, Velama Sutta, Beliau mengatakan bahwa perenungan terhadap ketidak-kekalan (impermanence) yang sesingkat jentikan jari saja memberikan pahala yang sangat besar. Mengapa? Karena perenungan pada ketidak-kekalan dapat membawa seseorang pada akhir dari dukkha, maksimal 7 kali kelahiran lagi untuk mereka yang dapat memahaminya pada tingkat yang paling mendasar.
Kita dapat menilai perkembangan diri sendiri. Apabila kita masih saja seorang pemberang, pencemburu, pendendam, maka kita dapat pasti kalau kita belum memahami ajaran tanpa diri. Apabila kita masih belum terlatih dalam Sila, maka kita dapat pasti kalau kita belum lagi memahami ajaran tanpa diri. Kalau kita masih saja kikir, maka kita dapat pasti kalau kita belum juga memahami ajaran tanpa diri. Mereka yang telah mematahkan belenggu tentang diri tak dapat menjadi seorang pemberang, pencemburu, dan pendendam. Dan mereka yang mengasihi tak dapat melakukan pelanggaran Sila. Mereka yang terlatih dalam Sila, memahami manfaat-manfaat dari persembahan, dan tak dapat menjadi kikir. Demikian caranya kita dapat mengukur perkembangan diri kita sendiri.
Mari bersama-sama kita belajar melepas (letting go)… Bahkan Buddha pun berkata, “Dhamma hanya bertujuan sebagai rakit yang digunakan untuk menyeberang saja, terhadap Dhamma pun kalian tidak seharusnya melekat, terlebih terhadap hal-hal yang bukan Dhamma (sudah sepantasnya untuk dilepaskan).” Mudah-mudahan sharing ini tidak terlalu berat. Semoga bermanfaat… 
Share |

Kilauan Mutiara

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul Alamin,shalawat serta salam Allah semoga dilimpahkan kepada Rasul-Nya yang paling mulia, penutup para nabi-nabiNya, juga kepada segenap keluarga,shahabat dan ikhwan-nya yang berpegang teguh dengan sunnahnya dan berpedoman kepada petunjuknya hingga hari pembalasan.

Nasihat termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang sangat penting dalam Islam.Sementara itu masih banyak kaum Muslimin yang belum mengenal hakikat nasehat [1] ,sehingga salah kaprah dalam menilainya.Anggapan bila nasehat adalah celaan ,penghinaan bahkan bisa jadi diidentikan dengan pengkafiran.Dan kesan ini begitu dimasyarakatkan dalam masa pamungkas ini,dimana slogan seperti : damai itu indah,indahnya kebersamaan, biarkanlah masing-masing dalam amalnya,jangan mengunting dalam lipatan dan lain-lain sejenisnya mencuat dan ditelan bulat-bulat sebagai benteng pencegah dari amalan (khususnya) nasehat nahi mungkar.

Kesan tersebut terus digembar-gemborkan layaknya dagangan ,sebagai resep jitu menguatkan status quo melestarikan hal-hal yang dianggap ibadah yang tidak sesuai dengan Islam atau cuma ndompleng dengan stempel nama Islam alias tetep me-lestari-ken acara paguyuban bid’ah dan formula yang pas-pasan buat mempertahankan pendapat yang jauh dari Sunnah seperti bolehnya demokrasi pemilu ,dll.

Dalam kesempatan ini ,kami hadirkan nasihat ulama [2] berkaitan dengan hal-ihwal bid’ah semoga dapat menjadi maslahat bagi kita semua.,mengamalkan apa yang telah disabdakan Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang dilansir dari jalan Shahabat Tamin Ad Dari radhiallahu anhu :

“Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:”Agama adalah nasihat.”Kami bertanya,”Untuk siapa?”Beliau menjawab,”Untuk Allah Subhanahu wa ta'ala ,KitabNya,RasulNya,dan pemimpin dan umumnya kaum muslimin. [dikeluarkan oleh banyak para imam ahli hadits:Muslim dalam shahihnya: 2/37;Ahmad dalam Musnadnya 4/102-103;Abu Daud dalam Sunan no.4944,An Nasaa’I 7/157,dll]
Share |

Belajar Mati Sebelum Kematian Datang

  "Belajarlah Mati sebelum kematian itu datang". Kata-kata itu sepertinya hanya sebuah kata iseng yang diucapkan. Tetapi jika kita telaah dan pahami secara rinci, kata-kata itu mengandung makna yang sangat dalam dan sarat ilmu.

      Belajar mati disini bukanlah dalam artian kita harus bunuh diri untuk bisa mengecap sebuah kematian. Tetapi arti kata belajar mati di sini adalah mematikan segala bentuk hawa nafsu untuk bisa bertemu dengan Sang Khaliq.

      Orang yang beragama Islam juga memiliki kata-kata seperti itu yakni "Sholatlah kamu sebelum kamu disholati orang lain". Artinya, bagi orang yang beragama Islam harus menjalankan sholat yang sejati. Bukan sholat yang hanya sekedar "gugur kewajiban" saja. Tetapi sholat disini adalah mengenal, menghadap, menyembah Allah. Dengan sholat, kita bisa mengenali Allah. Dengan Sholat kita bisa berbicara dan berkomunikasi dengan Allah. Seusai sholat, kita akan bisa merasakan kenikmatan dalam berkomunikasi dengan Allah.

      Kembali pada pokok bahasan belajar mati. Dalam hal ini, belajar mati adalah berdiam diri (meditasi/samadhi) dengan mematikan hawa nafsu, pancaindera dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nafsu. Semata-mata yang bergerak adalah hati dan rasa. Rasa sejati dengan bimbingan dari Gusti ALLAH lewat Guru Sejati. Dengan samadhi/meditasi, maka seseorang bisa mematikan diri sendiri dan berkontemplasi, konsentrasi menghadap khusuk pada Gusti ALLAH.

      Dengan samadhi/meditasi, kita meninggalkan dunia ini untuk sementara waktu dan memasuki alam lain yakni alam jabarut, malakut hingga alam ilahiah. Dengan memasuki berbagai alam ini kita akan bisa melihat kebesaran dari Gusti ALLAH akan semua makhluk ciptaannya. Jika hal itu sering kita lakukan, maka sewaktu-waktu jika kita dipanggil oleh Gusti ALLAH (meninggal dunia), kita sudah siap.

     Mengetuk Pintu Gusti ALLAH tidak ada bedanya tatakrama ketika kita bertamu dengan ketika kita menghadap pada Gusti ALLAH. Kalau kita bertamu ke rumah rekan atau sahabat, tentunya harus mengetuk pintu terlebih dulu sebelum siempunya rumah keluar. Demikian pula ketika hendak menghadap pada Gusti ALLAH. Kita harus mengetuk pintuNYA.

      Mengetuk pintuNYA itu tidak dalam artian yang sebenarnya. Tetapi dalam artian meminta ijinNYA untuk bisa masuk ke alamnya. Manusia tidak akan bisa masuk dengan sendirinya tanpa mengetuk pintu Gusti ALLAH itu. Cara mengetuk pintu tersebut adalah dengan doa yang disebut dengan doa kunci.

      Doa tersebut hendaknya dibaca tujuh kali dengan menahan napas setiap kali membacanya. Doa tersebut berbunyi:

Gusti Ingkang Moho Suci
Kulo Nyuwun Pangapuro Dhumateng Gusti Ingkang Moho Suci
Sirrullah, Dzatullah, Sifatullah
Kulo Sejatining Satrio Nyuwun Panguoso
Kulo Nyuwun Kanggo Tumindhake Satrio Sejati
Kulo Nyuwun Kanggo Anyirnakake Tumindak Ingkang Luput.

     Dengan mengetuk pintu Gusti ALLAH tersebut, maka kita sudah bisa melanglang buana milik ALLAH yang tidak semua orang bisa memasukinya. Tentu saja, semua itu atas izin dari Gusti ALLAH sendiri sebagai pemilik alam semesta. Mudah-mudahan artikel tersebut dapat berguna.
Share |

Pecinta Alam miliki Beban Mistik

Pecinta alam sejati, tak akan goyah walau badai menerjang, walau hujan menyapu, pecinta alam sejati adalah manusia yang peduli alam tanpa terbebani dengan dogma - dogma yang tak bisa di buktikan kebenarannya. Akan beda jika hanya mengatas namakan pecinta alam dan hanya menjadi simbol dalam menggapai alam dan puncak gunung. Mengutamakan pencapaianpuncak setelah itu kembali menjadi kaum vandalisme dan kaum perusak.

Banyak kini pendakian gunung dan menyusuri rimba di awali dengan sebuah pertanyaan: "Angker kah tempat itu? " Pertanyaan yang wajar tetapi lihatlah efek setelahnya. Jika jawabannya angker, kebanyakan akan menggagalkan petualangan, dengan alasan konkrit:Takut! Takut mitos dan mistik suatu tempat. Seharusnya tak perlu terjadi bagi orang yang beragama dan mencintai Tuhan.

Hanya sebagai contoh, tatkala kami, Belantara Indonesia menuju Merbabu dan Lawu , ada kawan pendaki yang bilang jika melihat sesosok tubuh melintas di depan kami, dan saat di Lawu, dari Pos 2 Taman Sari Atas turun menuju Pos 1 Taman Sari Bawah, perjalanan terasa lama dan banyak bayangan muncul yang berupa Pos 1 padahal bukan dan ketika didekati ternyata hanya batang pepohonan yang terhembus angin. Akhirnya kami menyimpulkan kenapa kami bisa lama dari Pos 2 menuju Pos 1, karena kami kelelahan dan terus seperti mendesak alam dengan ucapan : " Mana ini Pos 1? Lama banget! "...Faktor hujan juga menjadi penghalang. Itulah secara psikologis, kami hanya kelelahan sehingga banyak bayangan seperti fatamorgana. Itu akan lebih terasa seram jika kita terlalu percaya dengan hal angker dan mistis. Meskipun kita tak bisa memungkiri jika di alam ini tetap dan masih adaGunung angker dan mistisnya dan tak perlu kita berlebihan, sebagai pendaki gunung sejati, lalu melakukan semacam ritual tolak balak mengusir penunggu alam, yakni hantu dan semacamnya.


Contoh lagi, saat kami menuju Gunung Slamet , saat sampai di Pos Samaranthu, saat bangun dari tidur untuk membuang air kecil, aku keluar dari tenda, dan di dalam tenda tersisa dua kawan, karena kami mendaki Slamet hanya bertiga. Tetapi saat aku selesai buang air kecil dan hendak masuk dalam tenda kembali, di dalam tenda tak lagi dua kawan di sana berselimut Sleeping Bag, tetapi tiga!. Lalu yang satu siapa? Dan akhirnya aku tak jadi amsuk tenda, tetapi membuat api unggun di depan tenda menunggu pagi datang. Saat pagi, aku masuk dalam tenda, jumlah kawan tak lagi tiga, tetapi kembali dua. Singkat kata, Pak Muhaeri, penjaga Base Camp bilang setelah kami turun, bahwa tak boleh mendirikan tenda dan beristirahat di Samaranthu, karena Samaranthu artinya, Sarangnya hantu! Percaya? Ya bisa tidak dan bisa ya. Dalam agama terutama Islam, mahluk Allah Swt tak hanya manusia, hewan dan tumbuhan nyata, tetapi juga ada bangsa jin, semua milik Allah Swt.


Pada intinya, hal - hal tadi tak jadi penghalang selama kita juga berbuat selayaknya pecinta alam. Kebanyakan akan terbebani saat menuju gunung, sedangkan kemudian mendengar jikagunung yang kita tuju ternyata kata orang dan kata mitos, adalah gunung angker. Dan kemudian beban itu di realisasikan dengan membatalkan peendakian. Konyol dan penakut tanpa sebab penting menurut aku. banyak gunung yang di beri tanda angker, sepertimistisnya Ciremai , tetapi bukankah itu menjadi alasan kuat untuk lalu takut dan gagal dalam pendakian? Bagaimana bisa tahu dan menjadi saksi kemegahan Arcopodo Semerujika percaya, hal mistik akan membuat kita seram? Cobalah abaikan hal tersebut jika kamu siap menjadi pecinta alam sejati dan petualang sejati.

Tips mengabaikan hal mistik di alam bebas

1. Sebelum berangkat, berdoa yang ikhlas dan benar kepada Tuhan pemilik dan penguasa alam.
2. Pastikan kita tak meremehkan alam seisinya dengan perbuatan tercela.
3. Yakinlah ( tak mudah yakin ) bahwa ada malaikat pelindung di sisi kita.
4. Penampakan yang bisa terjadi, kembalilah ke logika, bahwa itu adalah bayangan dari mata dan karena raga yang lelah. Fatamorgana yang paling sahih.
5. Hormati dan hargai tempat dimana kita berada. Dengar petunjuk dari yang lebih tahu tentang keadaan alam yang kita kunjungi.
6. Bila makin mendekati yakin bahwa itu adalah hantu, cuek!
7. Bercanda dengan kawan dan obrolan segar lebih membantu, agar raga tak cepat lelah dan melupakan cerita mistik.

Jadilah petualang sejati dan lupakan mistik, dengan cara tetap menghargai keberadaanalam, ingat Tuhan sang pemilik alam semesta. Salam lestari rimba Indonesia!
Share |

Tunda Kematian

Kematian adalah hak Allah Swt, tanpa bisa kita menolaknya secara apapun jika Allah berkehendak, dan juga maju mundurnya kematian adalah hak Allah Swt. Tetapi, ada satu hal yang bisa membuat kematian di tunda oleh-Nya. Lalu bagaimana caranya dan mengapa itu bisa terjadi? Berikut ini sebuah contoh kisah yang benar - benar terjadi pada masa kenabianIbrahim as.

Suatu hari, Malaikat Kematian mendatangi Nabiyallah Ibrahim, dan bertanya, “Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?” “Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.” “Ada apa dia datang menemuimu?” Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok pagi.”


Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok pagi.” Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan Nabiyallah Ibrahim. Hampir saja Nabiyallah Ibrahim tergerak untuk rriemberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabiyallah Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah.

Esok paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabiyallah Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya.

Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah Ibrahim bertanya kepada Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi? Malaikat Kematian menjawab bahwa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah menahannya. “Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?”

Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup.

Kematian memang di tangan Allah. justru itu, memajukan dan memundurkan kematian adalah hak Allah. Dan Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya, Muhammad shalla `alaih bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. jadi, bila disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah…sedekah.

Maka, tengoklah kanan - kiri anda, lihat - lihatlah sekeliling anda. Bila anda menemukan ada satu - dua kesusahan di depan mata anda. maka sesungguhnya andalah yang butuh pertolongan. Karena siapa tahu kesusahan itu ditampakkan oleh Allah untuk memperpanjang umur anda. Tinggal apakah anda bersedia menolongnya atau tidak. Bila bersedia, maka kemungkinan besar memang Allah akan memanjangkan umur anda.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan sampai. Dan, tidak seseorangpun yang mengetahui dalam kondisi apa ajalnya tiba. Maka mengeluarkan sedekah bukan saja akan memperpanjang umur, melainkan juga memungkinkan kita meninggal dalam keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang cintanya Allah? Sedangkan kalau seseorang sudah dicintai oleh Allah, maka tidak ada masalahnya yang tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawa yang dicabut dalam keadaan husnul khatimah.

Mudah - mudahan Allah berkenan memperpanjang umur, sehingga kita semua berkesempatan untuk mengejar ampunan Allah dan mengubah segala kelakuan kita, sambil mempersiapkankematian datang.
Share |
 
Copyright © 2011 From P-MEN

Regards for World and for Green My World

Ant Activist With Love for All