Showing posts with label Karya Tulis Ilmiah. Show all posts
Showing posts with label Karya Tulis Ilmiah. Show all posts

Menulis Artikel Populer

  1. MENULIS ARTIKEL
    1. Menulis dan Mengarang
      Ada suatu pandangan tradisional yang menyebutkan bahwa menulis dan mengarang adalah dua kegiatan yang berbeda, meski sama-sama berkenaan dengan aspek kebahasaan. Kegiatan menulis sering diasosiasikan dengan ilmu yang sifatnya faktual, sedangkan kegiatan mengarang selalu diasosiasikan dengan karya sastra yang fiksional (Kamandobat 2007). Dengan kata lain, kegiatan menulis mutlak membutuhkan studi ilmiah, sedangkan kegiatan mengarang tidak.
      Pandangan tersebut tentu tidak benar. Kita tentu ingat novel "Da Vinci Code" yang menggemparkan. Lalu kita juga mungkin masih ingat "The Origin of Species" karya Charles Darwin. Keduanya berasal dari ranah yang berbeda, namun masing-masing disajikan dengan bahasa yang terkesan ilmiah dan literer.
      Akan tetapi, ada satu hal yang membedakan keduanya. Hal tersebut ialah dalam hal penekanannya. Meskipun sebuah karya tulis disajikan dengan bahasa literer, bila penekanannya menjurus ke bidang keilmuan -- termasuk ilmu sastra -- kita bisa mengelompokkannya ke dalam kegiatan menulis. Demikian sebaliknya, kegiatan menghasilkan karya tulis yang lebih bernuansa fiktif, meski terkesan faktual, bisa disebut sebagai kegiatan mengarang.
    2. Menulis Artikel
      Ada sejumlah pengertian mengenai artikel. Berikut beberapa di antaranya.
      Artikel merupakan karya tulis lengkap, misal laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66).
      Artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).
      Artikel merupakan:
      1. karya tulis atau karangan;
      2. karangan nonfiksi;
      3. karangan yang tak tentu panjangnya;
      4. karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur;
      5. sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya;
      6. wujud karangan berupa berita atau "karkhas" (Pranata 2002: 120).
  2. MENULIS SECARA ILMIAH POPULER
    Pada dasarnya, ada beberapa jenis model penulisan artikel. Model-model tersebut bisa dikelompokkan kepada tingkat kerumitannya. Model yang paling mudah ialah model penulisan populer. Tulisan populer biasanya tulisan ringan yang tidak "njelimet" dan bersifat hiburan. Termasuklah di dalamnya gosip. Selain itu, bahasa yang digunakan juga cenderung bebas (perhatikan, misalnya, bahasa yang digunakan di majalah GetFresh!). Model yang paling sulit ialah penulisan ilmiah. Model ini mensyaratkan objektivitas dan kedalaman pembahasan, dukungan informasi yang relevan, dan biasa diharapkan menjelaskan "mengapa" atau "bagaimana" suatu perkara itu terjadi, tanpa pandang bulu dan eksak (Soeseno 1982: 2). Dari aspek bahasa, tentu saja tulisan ilmiah mensyaratkan bahasa yang baku.
    Meski demikian, ada satu model penulisan yang berada di tengah-tengahnya. Model tersebut dikenal dengan penulisan ilmiah populer dan merupakan perpaduan penulisan populer dan ilmiah. Istilah ini mengacu pada tulisan yang bersifat ilmiah, namun disajikan dengan cara penuturan yang mudah dimengerti (Soeseno 1982: 1; Eneste 2005: 171). Model inilah yang digunakan dalam publikasi Yayasan Lembaga SABDA pada umumnya.
  3. JENIS-JENIS ARTIKEL
    Ada beberapa jenis artikel berdasarkan dari siapa yang menulis dan fungsi atau kepentingannya (Tartono 2005: 85-86). Berdasarkan penulisnya, ada artikel redaksi dan artikel umum. Artikel redaksi ialah tulisan yang digarap oleh redaksi di bawah tema tertentu yang menjadi isi penerbitan. Sedangkan artikel umum merupakan tulisan yang ditulis oleh umum (bukan redaksi).
    Sedangkan dari segi fungsi atau kepentingannya, ada artikel khusus dan artikel sponsor. Artikel khusus adalah nama lain dari artikel redaksi. Sedangkan artikel sponsor ialah artikel yang membahas atau memperkenalkan sesuatu.
  4. MULAI MENULIS ARTIKEL
    1. Menguji Gagasan
      Prinsip paling dasar dari melakukan kegiatan menulis ialah menentukan atau memastikan topik atau gagasan apa yang hendak dibahas. Ketika sudah menentukan gagasan tersebut, kita bisa melakukan sejumlah pengujian. Pengujian ini terdiri dari lima tahap sebagai berikut (Georgina dalam Pranata 2002: 124; band. Nadeak 1989: 44).
      1. Apakah gagasan itu penting bagi sejumlah besar orang?
      2. Dapatkah gagasan ini disempitkan sehingga memunyai fokus yang tajam?
      3. Apakah gagasan itu terikat waktu?
      4. Apakah gagasan itu segar dan memiliki pendekatan yang unik?
      5. Apakah gagasan Anda akan lolos dari saringan penerbit?
    2. Pola Penggarapan Artikel
      Ketika hendak menghadirkan artikel, kita tidak hanya diperhadapkan pada satu kemungkinan. Soeseno (1982: 16-17) memaparkan setidaknya lima pola yang bisa kita gunakan untuk menyajikan artikel tersebut. Berikut kelima pola yang dimaksudkan.
      1. Pola pemecahan topik
        Pola ini memecah topik yang masih berada dalam lingkup pembicaraan yang ditemakan menjadi subtopik atau bagian-bagian yang lebih kecil dan sempit kemudian menganalisa masing-masing.
      2. Pola masalah dan pemecahannya
        Pola ini lebih dahulu mengemukakan masalah (bisa lebih dari satu) yang masih berada dalam lingkup pokok bahasan yang ditemakan dengan jelas. Kemudian menganalisa pemecahan masalah yang dikemukakan oleh para ahli di bidang keilmuan yang bersangkutan.
      3. Pola kronologi
        Pola ini menggarap topik menurut urut-urutan peristiwa yang terjadi.
      4. Pola pendapat dan alasan pemikiran
        Pola ini baru dipakai bila penulis yang bersangkutan hendak mengemukakan pendapatnya sendiri tentang topik yang digarapnya, lalu menunjukkan alasan pemikiran yang mendorong ke arah pernyataan pendapat itu.
      5. Pola pembandingan
        Pola ini membandingkan dua aspek atau lebih dari suatu topik dan menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Inilah pola dasar yang paling sering dipakai untuk menyusun tulisan.
      Kelima pola penggarapan artikel di atas dapat dikombinasikan satu dengan yang lain sejauh dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah tulisan yang kaya.
    3. Menulis Bagian Pendahuluan
      Untuk bagian pendahuluan, setidaknya ada tujuh macam bentuk pendahuluan yang bisa digunakan (Soeseno 1982: 42). Salah satu dari ketujuh bentuk pendahuluan berikut ini dapat kita jadikan alternatif untuk mengawali penulisan artikel kita.
      1. Ringkasan
        Pendahuluan berbentuk ringkasan ini nyata-nyata mengemukakan pokok isi tulisan secara garis besar.
      2. Pernyataan yang menonjol
        Terkadang disebut juga sebagai "pendahuluan kejutan", diikuti kalimat kekaguman untuk membuat pembaca terpesona.
      3. Pelukisan
        Pendahuluan yang melukiskan suatu fakta, kejadian, atau hal untuk menggugah pembaca karena mengajak mereka membayangkan bersama penulis apa-apa yang hendak disajikan dalam artikel itu nantinya.
      4. Anekdot
        Pembukaan jenis ini sering menawan karena memberi selingan kepada nonfiksi, seolah-olah menjadi fiksi.
      5. Pertanyaan
        Pendahuluan ini merangsang keingintahuan sehingga dianggap sebagai pendahuluan yang bagus.
      6. Kutipan orang lain
        Pendahuluan berupa kutipan seseorang dapat langsung menyentuh rasa pembaca, sekaligus membawanya ke pokok bahasan yang akan dikemukakan dalam artikel nanti.
      7. Amanat langsung
        Pendahuluan berbentuk amanat langsung kepada pembaca sudah tentu akan lebih akrab karena seolah-olah tertuju kepada perorangan.
      Meskipun merupakan pendahuluan, bagian ini tidaklah mutlak ditulis pertama kali. Mengingat tugasnya untuk memancing minat dan mengarahkan pembaca ke arah pembahasan, sering kali menulis bagian pendahuluan ini menjadi lebih sulit daipada menulis judul atau tubuh tulisan. Oleh karena itu, Soeseno (1982: 43) menyarankan agar menuliskan bagian lain terlebih dahulu.
    4. Menulis Bagian Pembahasan atau Tubuh Utama
      Bagian ini disarankan dipecah-pecah menjadi beberapa bagian. Masing-masing dibatasi dengan subjudul-subjudul. Selain memberi kesempatan agar pembaca beristirahat sejenak, subjudul itu juga bertugas sebagai penyegar, pemberi semangat baca yang baru (Soeseno 1982: 46). Oleh karena itu, ada baiknya subjudul tidak ditulis secara kaku.
      Pada bagian ini, kita bisa membahas topik secara lebih mendalam. Uraikan persoalan yang perlu dibahas, bandingkan dengan persoalan lain bila diperlukan.
    5. Menutup Artikel
      Kerangka besar terakhir dalam suatu karya tulis ialah penutup. Bagian ini biasanya memuat simpulan dari isi tulisan secara keseluruhan, bisa juga berupa saran, imbauan, ajakan, dan sebagainya (Tartono 2005: 88).
      Ketika hendak mengakhiri tulisan, kita tidak mesti terang-terangan menuliskan subjudul berupa "Penutup" atau "Simpulan". Penutupan artikel bisa kita lakukan dengan menggunakan gaya berpamitan (Soeseno 1982: 48). Gaya pamit itu bisa ditandai dengan pemarkah seperti "demikian", "jadi", "maka", "akhirnya", dan bisa pula berupa pertanyaan yang menggugah pembaca.
    6. Pemeriksaan Isi Artikel
      Ketika selesai menulis artikel, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan ialah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Untuk meyakinkan bahwa tulisan yang kita hasilkan memang baik, kita harus rajin memeriksa tulisan kita. Untuk memudahkan pengoreksian artikel, beberapa pertanyaan berikut perlu kita jawab (Pranata 2002: 129-130).
      Untuk pembukaan, misalnya, apakah kalimat pembuka bisa menarik pembaca? Dapatkah pembaca mulai mengerti ide yang kita tuangkan? Jika tulisan kita serius, adakah kata-kata yang sembrono? Apakah pembukaan kita menyediakan cukup banyak informasi?
      Untuk isi atau tubuh, apakah kalimat pendukung sudah benar-benar mendukung pembukaan? Apakah masing-masing kalimat berhubungan dengan ide pokok? Apakah ada urutan logis antarparagraf?
      Untuk simpulan, apakah disajikan dengan cukup kuat? Apakah mencakup semua ide tulisan? Bagaimana reaksi kita terhadap kata-kata dalam simpulan tersebut? Sudah cukup yakinkah kita bahwa pembaca pun akan memiliki reaksi seperti kita?
      Jika kita menjawab "tidak" untuk tiap pertanyaan tersebut, berarti kita perlu merevisi artikel itu dengan menambah, mengganti, menyisipi, dan menulis ulang bagian yang salah.
  5. ASPEK BAHASA DALAM ARTIKEL
    Melihat target pembacanya yang adalah khalayak umum, kita perlu mencermati bahasa yang kita gunakan dalam menulis artikel ilmiah populer ini. Meskipun bersifat ilmiah (karena memakai metode ilmiah), bukan berarti tulisan yang kita hasilkan ditujukan untuk kalangan akademisi. Sebaliknya, artikel ilmiah populer ditujukan kepada para pembaca umum.
    Mengingat kondisi tersebut, kita perlu membedakan antara kosakata ilmiah dan kosakata populer. Kata-kata populer merupakan kata-kata yang selalu akan dipakai dalam komunikasi sehari-hari, baik antara mereka yang berada di lapisan atas maupun di lapisan bawah, demikian sebaliknya. Sedangkan kata-kata yang biasa dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, diskusi-diskusi khusus disebut kata-kata ilmiah (Keraf 2004: 105-106).
    Berikut daftar kata ilmiah dan populer. 
  6.  
  7. KATA ILMIAH KATA POPULER
    analogi kiasan
    anarki kekacauan
    bibliografi daftar pustaka
    biodata biografi singkat
    definisi batasan
    diskriminasi perbedaan perlakuan
    eksentrik aneh
    final akhir
    formasi susunan
    format ukuran
    friksi bagian, pecahan
    indeks penunjuk
    konklusi kesimpulan
    kontemporer masa kini, mutakhir
    kontradiksi pertentangan
    menganalisa menguraikan
    prediksi ramalan
    pasien orang sakit
Sumber Pustaka:
Eneste, Pamusuk. 2005. "Buku Pintar Penyuntingan Naskah". Edisi Kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kamandobat, Faisal. 2007. Terjebak antara Pengarang dan Penulis, dalam "Kompas", Sabtu, 24 Maret 2007. Hlm. 14.
Keraf, Gorys. 2004. "Diksi dan Gaya Bahasa". Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Nadeak, Wilson. 1989. "Bagaimana Menjadi Penulis Kristiani yang Sukses". Bandung: Yayasan Kalam Hidup.
Pranata, Xavier Quentin. 2002. "Menulis dengan Cinta: Belajar Mandiri dan Mengajarkan Kembali Jurnalisme Kasih Sayang". Yogyakarta: Yayasan ANDI.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002. "Kamus Besar Bahasa Indonesia". Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Soeseno, Slamet. 1982. "Teknik Penulisan Ilmiah-Populer". Jakarta: Gramedia.
Tartono, St. S. 2005. "Menulis di Media Massa Gampang!". Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.
Share |

Menulis Artikel di Media

Empat hal penting dari sebuah artikel yang baik adalah sebuah subjek yang dapat menarik perhatian pembaca, ide-ide yang menarik dan informatif, fakta-fakta yang dapat dipercaya dan baru, serta sebuah gaya penulisan yang dapat mendorong orang untuk membaca.

Sumber-Sumber Tulisan
Ide ada di mana-mana. Penulis yang sukses memerlukan pikiran yang selalu bertanya, mata yang awas memerhatikan, penciuman yang "tajam" terhadap berita, dan imajinasi yang hidup. Ia melatih diri untuk melihat hal yang tidak diperhatikan orang lain dan selalu berusaha untuk mencari topik tulisan yang baru.
Dibanding dengan hasil penelitian, pengalaman langsung untuk sebuah subjek biasanya lebih mengandung kepastian dan nilai rasa. Ada artikel yang tumbuh dari percakapan, pandangan sekilas, dari mimpi, namun ada pula yang timbul dari perasaan kelaparan dan kedinginan, atau dari perasaan yang sedang dimabuk asmara. Kadang-kadang sebuah peristiwa besar, seperti kelahiran atau kematian, banjir atau kebakaran, dapat menjadi sebuah artikel. Biasanya sumber tulisan seperti itu dimulai dari sesuatu yang kecil, sesuatu yang ringkas dan kuat pengaruhnya serta tidak mudah dilupakan.
Adalah penting bagi penulis untuk mencari caranya sendiri untuk mencatat ide-ide yang ia peroleh agar tidak terlupakan. Beberapa penulis memilih cara membuat sebuah daftar atau catatan harian untuk mencatat segala macam pengalaman atau pikiran yang mungkin dapat berguna nantinya.

Memilih Subjek
Daftar pertanyaan di bawah ini akan membantu seorang penulis memilih subjeknya:
  1. Sudah cukupkah cerita saya tentang subjek ini untuk menjadi artikel yang baik?
  2. Apakah terlampau banyak yang dapat saya ceritakan tentang subjek ini, sehingga tidak mungkin untuk mendiskusikannya dalam jumlah kata yang terbatas?
  3. Apakah terdapat lebih dari satu ide di sini? Apakah dua artikel lebih baik daripada satu artikel?
  4. Apakah subjek ini akan menarik bagi sekelompok pembaca tertentu? Apa yang harus saya ceritakan sesuai dengan keingintahuan dan kepentingan mereka? Penelitian yang bagaimana yang harus saya lakukan untuk membentuk subjek ini menjadi artikel yang baik? Apakah saya punya waktu untuk melakukan penelitian ini?
  5. Apakah redaksi majalah yang ada dalam pikiran saya bersedia memuat artikel saya ini?
Sesudah seorang penulis yakin bahwa ia punya subjek yang dapat ditanganinya dan bahwa ada redaksi yang mau menerimanya, ia hendaknya bertanya kepada diri sendiri:
  1. Apakah ada hal penting yang akan saya ceritakan?
  2. Kepada siapakah tulisan ini akan saya tujukan?
  3. Apakah tujuan saya menulis artikel ini?
Buku Catatan Sang Penulis
Setiap penulis merasa perlu mengatur buku catatannya dengan caranya sendiri. Klasifikasi di bawah ini dianggap dapat membantu pengaturan buku catatan itu:
  1. Ide-ide untuk Subjek Dalam satu bagian bukunya, penulis mencatat ide-ide yang dianggapnya penting. Ide-ide ini bisa muncul kapan saja. Pada saat ide itu muncul, mungkin ia sedang sendirian atau bisa juga ketika sedang berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak. Kalau ia tidak segera mencatatnya, mungkin ide itu tidak akan muncul lagi di pikirannya. Setelah itu ia dapat memikirkan bagaimana ide itu bisa dikembangkan menjadi sebuah artikel. Ia bisa mengevaluasi materi yang diperolehnya dan mencari sumber informasi tambahan.
  2. Kesan-Kesan Kesan-kesan pertama sangat jelas terasa, tetapi juga sangat cepat berlalunya. Kesan-kesan itu harus dicatat sesegera mungkin pada saat melihat, mendengar, merasakan, atau menemukannya, sehingga emosinya dapat dibungkus dalam citra. Catatan tentang kesan-kesan pertama terhadap tempat, orang, atau pengalaman tertentu sering kali bisa menjadi bahan yang tinggi nilainya.
  3. Ekspresi Kutipan sebagaimana adanya membuat sebuah artikel terasa hidup. Kutipan itu dapat menjadi pembukaan yang menarik atau bisa juga memberi warna bagi kata-kata yang digunakan dalam penggambaran dan narasi. Sering kali ungkapan (ekspresi) dapat memberi kesan sugestif. Ungkapan seperti itu akan sangat efektif kalau dikutip sebagaimana adanya dengan menyertakan juga sumbernya. Catatan tentang kutipan dapat dicek kembali bilamana perlu.
  4. Kata-Kata Sebuah kata asing yang dicatat dapat menjadi pengingat untuk membuka kamus mencari artinya. Penambahan perbendaharaan kata akan membantu seorang penulis menggunakan setiap kata sesuai dengan maknanya.
  5. Fakta-Fakta Setiap penulis memerlukan fakta-fakta. Dengan mencatat sebuah fakta langsung pada saat pertama didengar atau dilihat, akan menghemat waktu yang diperlukan untuk penelitian. Sumber informasinya perlu dicatat untuk mengecek keakuratan dan pencantuman sumber dalam penulisan nanti.
  6. Ide-Ide Pada saat sebuah artikel tentang satu subjek terbentuk dalam pikiran penulisnya, setiap pengalaman pribadinya dapat berguna. Memang aneh kalau kita pikirkan bagaimana pengonsentrasian pada satu subjek bisa menuntun ke penemuan materi-materi yang bersangkutan dengan subjek itu.
Jenis-Jenis Artikel
Pertama-tama, seorang penulis harus bertanya kepada dirinya sendiri, "Artikel macam apa yang akan kubuat? Bagaimana gaya dan penulisannya?" Berikut ini adalah beberapa macam artikel yang umum:
1. Artikel Tutorial
Artikel ini populer karena kebanyakan orang tertarik mempelajari bagaimana caranya membuat sesuatu.
Sebuah artikel tutorial dapat bercerita kepada pembacanya bagaimana cara membuat rak buku, memimpin rapat, membuat cerita untuk anak-anak, mengelola sebuah lokakarya, atau mempersiapkan makanan yang bergizi. Si penulis menjelaskan prosesnya dengan begitu jelas sehingga pembaca dapat mengikuti petunjuknya tahap demi tahap. Si penulis punya satu tujuan, yaitu untuk menolong pembaca menemukan kepuasan dalam melakukan sesuatu yang baru, dan melakukan hal tersebut dengan baik.
Alinea pertama menyatakan ide utamanya. Penulis menjelaskan prosesnya dan memberi petunjuk-petunjuk sederhana yang mudah diikuti. Ia menulis dengan jelas sehingga pembacanya akan berusaha menghindari kesalahan. Jika tulisannya telah selesai, ia perlu menguji petunjuk-petunjuk dalam artikelnya itu kepada seorang yang asing dengan proses tersebut. Jika ada tahap-tahap yang belum jelas, berarti naskahnya perlu diperbaiki.
2. Artikel Naratif
Sebuah artikel naratif bercerita tentang sesuatu yang benar-benar terjadi. Biasanya artikel ini ditulis dalam bentuk orang ketiga dan berbeda dengan fiksi karena informasi yang disajikan berupa fakta dan bukan khayalan. Artikel jenis ini dapat bertujuan untuk menghibur, memberi instruksi, atau memberi inspirasi. Pengalaman berpetualang atau cerita kehidupan sehari-hari adalah sumber informasi yang baik untuk jenis artikel ini. Cara-cara penulisan cerita pendek seperti percakapan, penggambaran, gerak, dan ketegangan dapat membantu pembuatan artikel naratif Anda menarik.
3. Artikel Sejarah
Sejarah begitu penuh dengan kejadian yang menarik dan penting, sehingga inilah ladang yang baik bagi para penulis. Artikel-artikel yang menarik ditulis dengan pandangan yang segar. Para pembaca selalu tertarik pada fakta yang belum umum diketahui orang.
4. Artikel Riwayat Hidup
Artikel tentang riwayat hidup selalu menarik. Perjuangan seorang yang terkenal atau seorang pahlawan yang populer dapat menjadi bahan artikel riwayat hidup yang menarik.
Para pembaca selalu tertarik pada hal-hal kecil dari kepribadian orang-orang terkenal, mereka juga tertarik pada pengalaman-pengalaman luar biasa dari orang-orang yang tidak terkenal. Kalau nama seseorang muncul pada judul berita sebuah surat kabar, para pembaca dengan senang hati akan membaca tulisan mengenai detil-detil pribadi tentang tokoh tersebut. Jika sebuah artikel merupakan kombinasi antara riwayat hidup seseorang dengan informasi tentang opini orang tersebut, maka artikel tersebut dinamakan sebuah "profil".
5. Artikel Pengalaman Pribadi
Suatu pengalaman aneh seorang penulis, temannya, atau seseorang yang baru saja dikenalnya, akan menarik perhatian orang lain. Kalau pengalaman seperti itu ditulis secara jelas, para pembaca akan sangat tertarik dan merasa terlibat dalam kehidupan orang tersebut. Artikel semacam ini sering menolong pembaca menyelesaikan permasalahan mereka.
6. Artikel Wawancara
Artikel wawancara erat hubungannya dengan riwayat hidup dan pengalaman pribadi seseorang. Seseorang itu bisa jadi adalah orang yang memiliki otoritas terhadap subjek yang dijadikan topik wawancara. Atau, jika bukan demikan, maka orang tersebut adalah orang yang terkenal sehingga orang lain menghormati pendapat dan ide-idenya.
Sebuah artikel wawancara berkisar pada kutipan langsung dan tak langsung. Setiap pertanyan yang dimuat hendaknya tidak menyangkut hal yang sudah jelas, melainkan tentang hal-hal yang tidak biasa. Kata-katanya harus mencerminkan sikap, falsafah hidup, dan karakteristik tingkah laku orang yang diwawancarai.
7. Artikel Kerohanian
Tujuan dari sebuah artikel kerohanian adalah untuk menolong pembaca tumbuh secara spiritual. Subjeknya adalah agama dan tempatnya dalam kehidupan sehari-hari. Artikel jenis ini misalnya menafsirkan sebuah perikop dalam Alkitab, menceritakan kesaksian orang-orang Kristen, atau menafsirkan kebenaran-kebenaran yang punya arti bagi penulisnya.
8. Artikel Humor
Artikel yang ditulis untuk menghibur atau mengajarkan sesuatu lewat humor.
9. Artikel Sanggahan
Artikel yang menyangkut subjek yang memunyai pandangan-pandangan berbeda. Penulisnya mengemukakan argumen atas suatu pandangan atau tindakan tertentu.
10. Artikel Eksposisi
Sebuah artikel yang menyajikan fakta-fakta tentang masalah yang sedang hangat dibicarakan.
Merencanakan Artikel
Perencanaan artikel meliputi beberapa tahap dimulai dengan penulis menyeleksi subjek yang akan menarik perhatian pembaca. Kemudian ia mengumpulkan materi dari berbagai sumber, memastikan jenis artikel yang akan diliputnya, dan materi yang akan dicakupnya. Banyak penulis merasa perlu membuat judul sementara. Mereka memilih kata-kata yang menjadi ide sentral dan menggunakannya sebagai petunjuk ketika mereka menulis. "Tahu arah tujuanmu" adalah satu prinsip dasar bagi penulis, dan sebuah judul sementara akan membantu penulis agar tidak melenceng dari ide utama. Setelah tulisan selesai, penulis atau penyunting dapat membuat judul yang lebih tepat lagi.
Dengan menuliskan pokok-pokok utama subjek, penulis terbantu untuk menentukan hal-hal mana yang dapat dikombinasikan, dihilangkan, dan diungkapkan dengan lebih jelas. Kalau ada bagian yang memerlukan tambahan materi, maka dapat dilakukan penelitian lagi. Jika telah puas pada pembagian tulisan itu, langkah berikutnya adalah menetapkan urutan yang logis dan memberi nomor urut.
Setelah tahap awal ini, persiapan membuat kerangka menjadi mudah. Seorang penulis membutuhkan kerangka seperti halnya seorang turis memerlukan sebuah peta yang akan mencegahnya tersesat atau bolak-balik pada jalan yang sama. Kerangka membuat penulisan menjadi mudah dan lebih menyenangkan serta akan mengurangi perlunya penulisan kembali.
Sebuah kerangka tertulis memunyai judul-judul utama, subjudul, dan mungkin juga sub-subjudul untuk hal yang kecil-kecil. Setiap judul dan subjudul dapat ditulis dalam kalimat-kalimat pendek atau kalimat lengkap, masing-masing mengungkapkan satu pemikiran yang tuntas. Judul-judul utama sebuah kerangka diberi nomor dengan angka Romawi, subjudul dengan huruf besar, dan sub-subjudul dengan angka Arab dan huruf kecil.
Menulis Sebuah Artikel Majalah
Sebagian besar petunjuk mengenai bagaimana cara menulis tercakup dalam butir-butir di bawah ini.
1. Tulislah Naskah Pertama Anda dengan Bebas dan Menyeluruh.
Tulis semua subjek tulisan yang ingin Anda sampaikan. Setelah itu, potong bagian yang berlebihan, perbaiki penulisannya, dan tulis dalam ukuran yang tepat untuk sebuah majalah. Jika naskah telah selesai, baca lagi secara menyeluruh. Kemudian ujilah, apakah tulisan itu mudah dibaca atau tidak.
2. Buatlah Kalimat Awal yang Menarik Perhatian.
Jangan terlalu banyak menghabiskan waktu pada kalimat awal. Tulis saja artikelnya dan kemudian kembali ke atas untuk memeriksa pendahuluannya. Pada saat inilah Anda dapat memperbaiki atau menulis sekali lagi pendahuluan itu.
3. Menulislah dengan Gaya yang Hidup dan Mudah Dibaca.
Anda harus selalu bersaing dengan penulis lain untuk memperebutkan perhatian pembaca. Penulisan sebuah artikel yang menarik memerlukan:
a. kata-kata yang dimengerti pembaca
b. kalimat-kalimat yang memberikan gambaran dan imajinasi yang jelas dalam pikiran pembaca
c. kata kerja dalam kalimat aktif, yang mengungkapkan seseorang melakukan sesuatu kepada orang lain.
4. Tulislah Kalimat dengan Jelas
Ungkapkan satu pemikiran dalam satu kalimat. Hindari usaha menyelipkan materi yang dipisahkan oleh tanda kurung atau garis pisah. Hindari kalimat yang panjang dan rumit. Gunakan kalimat pendek sebisanya, yang jumlah katanya kurang dari lima belas. Kalimat panjang jumlah katanya di atas tiga puluh. Kalimat sedang, tentu saja, kira-kira di antara jumlah keduanya. Tujuannya agar bacaan terasa menarik dan mudah dimengerti. Sering kali kalimat pendek itu membantu memberi penekanan pada poin-poin yang penting. Namun pengulangan pemakaian kalimat pendek yang terlalu banyak, kecuali kalau digunakan untuk sebuah penekanan, dapat mengganggu jalan pikiran atau membuat tulisan itu melompat-melompat dan kekanak-kanakan. Di lain pihak, kalimat-kalimat panjang membuat bacaan menjadi sulit dan terkadang membingungkan bahkan dapat menghilangkan keinginan untuk membaca.
Untuk memberi keragaman pada tulisan Anda, ragamkanlah konstruksi kalimat-kalimat yang Anda gunakan. Jagalah jangan sampai digunakan pengaturan subjek, kata kerja, atau kata sifat yang begitu aneh sehingga pembaca tidak dapat secara cepat menangkap maksudnya.
5. Buatlah Tulisan Anda Mengalir Lancar
Tulislah setiap kalimat dan alinea begitu rupa sehingga perpindahan ke kalimat atau alinea berikutnya tidak mengganggu jalan pikiran pembaca. Gunakan kata-kata dan kalimat transisi untuk membantu pembaca berpindah dari satu ide ke ide berikutnya. Anggaplah kata-kata transisi itu sebagai jembatan yang menghubungkan satu pemikiran lainnya. Biasanya kata transisi itu muncul pada awal sebuah alinea.
Memperbaiki Naskah Pertama
Semua penulisan yang baik merupakan hasil penulisan yang berulang-ulang. Sebagian besar penulis mengakui bahwa naskah pertama mereka belum otomatis menjadi hasil akhir. Orang yang menulis dengan bebas sering menulis dengan cepat, dan penulisan yang cepat tidak memberikan kesempatan untuk memperbaiki kata-kata, ungkapan-ungkapan, kalimat-kalimat.
Ketika seorang penulis menyelesaikan artikelnya, ia perlu membacanya kembali. Ia perlu memeriksa apakah ia telah menyampaikan apa yang ingin ia katakan dan telah menuliskannya dengan cara yang membuat pembaca dapat memahami maksudnya. Ia perlu mengorganisir kembali materi-materi yang diperoleh, memperbaiki kalimat, dan memperjelas penggunaan kata-kata transisinya. Ia perlu menuliskan kembali beberapa alinea dan memperbaiki beberapa ungkapan di alinea lainnya. Yang terakhir, seorang penulis perlu memperbaiki penulisan dan ejaan atau tanda baca yang salah.
Jika penulis telah puas dengan hasil kerjanya, baru ia dapat mengirimkannya kepada penerbit dengan harapan agar tulisannya tersebut dapat dimuat.
Diambil dan disunting dari:
Judul buku : Menjadi Penulis: Membina Jemaat yang Menulis
Judul asli : Write the Vision
Penulis : Marion van Horne
Penerjemah : Putu Laxman S. Pendit
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta
Halaman : 29 -- 34
Share |

Bedah Esay

Esai bukanlah sekadar rekaman fakta-fakta atau hasil imajinasi murni. Tulisan yang Anda buat dalam pelajaran sejarah yang dipenuhi dengan fakta-fakta yang dikumpulkan dari berbagai referensi mungkin nampak seperti sebuah esai. Namun, seberapa pun cermatnya Anda dalam menulis ulang semua fakta tersebut, meskipun dengan bahasa Anda sendiri, tulisan itu bukanlah esai. Esai juga bukan kejadian atau pengalaman yang Anda tuliskan dalam pelajaran bahasa, tak peduli betapa nyata, cerdas, menyentuh, berurutan, jelas, rinci, dan lengkapnya tulisan Anda itu.
Mungkin Anda telah membuat ratusan tulisan dalam bentuk seperti di atas dan mengumpulkan semua berdasarkan 'temanya'. Anda mungkin akan menyebutnya sebagai sebuah esai, tapi itu juga bukan esai. Jadi, apakah esai itu? Esai adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya.
Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini. Esai memang bisa berbeda menurut kualitas, jenis, panjang, gaya, dan subjek. Esai juga bisa berbentuk sederhana sampai yang sangat kompleks, namun semuanya akan menunjukkan sebuah opini pribadi sebagai analisa akhir. Inilah perbedaan mendasar antara esai dengan tulisan ekspositoris atau sebuah laporan. Sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut.
Tentu, Anda harus memiliki sebuah opini sebelum menulis esai. Hanya saja, Anda juga harus memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan opini itu, bagaimana menyampaikannya, dan bagaimana mengungkapkan nilai yang dibawanya. Sebelum mendapatkan opini, Anda harus lebih dulu menentukan subjek yang hendak ditanggapi karena opini harus berhubungan dengan subjek tertentu.

SUBJEK ESAI
Apa yang harus ditulis? Pertanyaan ini memiliki jawaban yang tidak terbatas. Anda dapat menuliskan segala jenis topik; dari persahabatan, politik, sepatu, menjual lilin, sampai esai tentang esai itu sendiri. Satu-satunya persyaratan yang harus dipenuhi adalah bahwa penulis harus cukup memahami topik tersebut sehingga ia dapat membentuk sebuah opini. Lalu, apa batasan dari 'cukup memahami' itu? Jawabannya juga tidak sulit. Sebagai manusia, seperti yang lain, kita pasti 'cukup memahami' dan akrab dengan banyak hal di sekitar kita; persahabatan, hubungan keluarga, pertumbuhan, makan, tidur, dan banyak lainnya. Tentunya semua itu dapat dipakai sebagai bahan menulis esai.
Bagaimanapun juga, 'pemahaman yang cukup' untuk menuliskan tema-tema spesifik memerlukan pengetahuan atau pemahaman akan disiplin ilmu tertentu. Kita mungkin bisa menulis sebuah esai mengenai topik seperti persahabatan tanpa perlu memberikan banyak fakta. Namun, untuk topik- topik seperti Puritanisme atau sejenisnya, tentunya kita memerlukan informasi yang dapat diuji secara 'ilmiah'. Referensi sendiri bisa didapatkan dari banyak sumber, mulai dari buku sampai media internet. Menulis tentang bidang yang sesuai dengan minat kita juga akan sangat mempermudah dan mempercepat proses penulisan itu sendiri. Karenanya, seorang yang mempunyai hobi dalam satu bidang tertentu juga dapat disebut sebagai seorang yang memiliki 'pemahaman yang cukup'. Bahkan, sekalipun kita tidak menaruh minat yang begitu besar dalam satu bidang pembahasan, kita tetap dapat menulis sebuah esai yang baik asalkan dapat mengumpulkan banyak fakta. Dengan membaca berbagai informasi yang bisa dipertanyakan, dibandingkan, atau yang dapat Anda nilai sendiri, pengetahuan tentang satu bidang baru juga akan Anda dapatkan dengan cepat.
Menulis sebuah esai yang didasari oleh pengetahuan khusus memang cenderung lebih mudah daripada menulis esai tentang hal-hal atau pengalaman yang sudah sering ditemui di sekitar kita. Berbeda dengan kebiasaan yang sering terjadi dalam sebuah opini, seorang penulis esai hendaknya tidak boleh hanya berpegang pada 'perasaan bahwa ia benar', namun lebih beranggapan bahwa 'pikiran saya benar'. Jadi, opini yang terdapat dalam sebuah esai juga harus didasarkan pada apa yang Anda pikirkan dan bukan hanya pada apa yang Anda rasakan. Yang jelas, setiap esai harus memiliki opini, dan opini yang terbaik adalah didasari oleh pikiran dan perasaan.

APAKAH OPINI ITU? BAGAIMANA ANDA MEMUNCULKANNYA?
Banyak orang yang mendefinisikan opini dengan sangat bebas. Segala prasangka, sentimen, tuduhan, dan segala jenis omongan yang tanpa dasar seringkali disebut sebagai sebuah opini. Namun, opini yang ingin disampaikan dalam sebuah esai harus memenuhi definisi sebagai berikut.
opini: sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang; penilaian.
Ujilah opini Anda dengan definisi di atas untuk menilai apakah Anda telah memiliki topik esai yang baik. Apakah opini tersebut didasari atas keyakinan mutlak? Atau pengetahuan yang sahih? Apakah Anda dapat membuktikan kebenarannya di atas semua keraguan yang beralasan? Jika ya, berarti itu bukan opini, tetapi fakta -- atau sebuah hasil observasi yang telah diterima secara luas sehingga menjadi sebuah fakta. Fakta harus terlebih dulu diubah menjadi sebuah opini sebelum dimunculkan dalam sebuah esai. Misalnya, fakta menunjukkan bahwa jumlah penduduk negara kita tahun ini adalah sekian ratus juta. Untuk mengubah fakta tersebut menjadi sebuah opini tugas Anda sekarang adalah menilainya. Anda bisa menilai bahwa budaya negara kita berubah karena pertambahan penduduk yang demikian cepat; atau perlunya perubahan kebijakan ekonomi yang dapat menjamin setiap warga bisa mencukupi kebutuhannya, dll. Dengan membuat sebuah penilaian/tanggapan, maka Anda telah mengubah fakta menjadi sebuah opini. Dengan demikian, Anda telah memiliki topik esai yang baik.
Namun, tidak semua opini dapat menjadi topik sebuah esai. Jika ada pernyataan 'menjalin persahabatan penting bagi hubungan antarmanusia', pernyataan ini bisa disebut opini karena tidak dapat dibuktikan secara ilmiah atau statistik. Walau demikian, pernyataan itu merupakan opini yang lemah untuk dikemukakan dalam sebuah esai karena tidak merangsang timbulnya argumen lain. Dari segi praktis, itu adalah fakta. Untuk membuatnya menarik, Anda bisa mengubahnya menjadi opini yang lebih tajam seperti 'persahabatan adalah hal terpenting bagi manusia', misalnya. Tapi cara yang lebih efektif dalam menarik minat pembaca adalah dengan mengawalinya dengan berbagai pertanyaan menantang seperti, 'apakah persahabatan antarpria lebih awet daripada wanita?' 'bisakah persahabatan yang murni terjalin antara pria dan wanita, ataukah antara orang tua dan anak?' dst.
Jika kita melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut, pembaca mungkin bisa menjawab ya atau tidak saja. Tapi bagaimana jika Anda mengubah kata tanya tersebut dengan kata tanya yang lebih memerlukan penjelasan seperti 'mengapa', 'apakah', atau 'bagaimana'?
- Bagaimana orang tua dapat bersahabat dengan anak?
- Mengapa persahabatan antarpria lebih awet daripada antarwanita? (atau sebaliknya)
- Apakah persahabatan itu?
Makin banyak pertanyaan yang Anda ajukan pada diri Anda akan semakin baik. Setelah itu, Anda akan dapat mengenali pertanyaan yang penting dan yang tidak, yang terlalu luas dan yang terlalu sempit, dsb. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tak jarang Anda juga akan menemukan opini-opini yang belum pernah Anda sampaikan sebelumnya (artinya: Anda tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya Anda pikirkan). Teruslah melontarkan pertanyaan. Ketika Anda menemukan satu opini pribadi yang sangat menarik berarti Anda telah memasuki wilayah seorang penulis esai.

APA YANG MEMBUAT SEBUAH OPINI MENARIK?
Jika diminta untuk memilih sebuah opini yang paling menarik, mungkin kita akan memilih berdasarkan minat kita karena kita akan selalu dapat menulis dengan baik topik yang kita kuasai/sukai atau yang dengan gampang kita tuliskan. Namun, topik yang menarik sesungguhnya adalah yang 'bertentangan'! Jika jumlah orang yang tidak setuju dengan tulisan Anda cukup signifikan, maka bisa dipastikan pandangan Anda akan menarik perhatian. Pembaca tidak akan tertarik dengan sesuatu yang artinya memang sudah jelas dan tepat. Anda tentu boleh menuliskan hal seperti itu, namun siapa yang akan mengindahkannya?
Sebuah esai akan gagal jika tidak mempunyai argumen. Setiap analisa akhir dari esai adalah argumen. Analisa akhir itulah yang menjadi opini penulis esai tentang satu topik yang berlawanan dengan opini orang lain. Kalimat 'A lebih baik (atau jelek) dari B' adalah kalimat yang jelas akan menimbulkan argumentasi. Namun, Anda juga tak perlu harus menyatakan sejelas itu. Saat menyatakan bahwa 'balap mobil mempromosikan keamanan berkendara', berarti Anda telah berargumentasi dengan pendapat banyak orang yang menganggap balap mobil hanya akan mengakibatkan kecelakaan.

MENGUJI PERTENTANGAN
Ketika sedang membuat sebuah opini esai, usahakan agar Anda juga dapat menjawab setiap pertanyaan yang mungkin muncul dari opini yang bertentangan. Yang dimaksud dengan opini yang bertentangan tentu tidak selalu berarti berkebalikan. Jika Anda mengatakan "Animal Farm" adalah novel terbaik sepanjang masa, tentu tak akan ada orang yang cukup sembrono menyatakan "Animal Farm" sebagai novel terjelek sepanjang masa. Mungkin yang ada ialah kritik atas pernyataan Anda tersebut, yang mungkin akan mengatakan novel itu terlalu pendek, penokohannya kurang tajam, dsb. Jadi, opini yang menentang tidak selalu kebalikan dari opini Anda. Yang jelas akan ada perbedaannya.
Dengan mempertimbangkan secara seksama kemungkinan pertanyaan ini, mungkin pikiran dan opini Anda akan berubah. Bagus! Anda masih memiliki opini, walau mungkin telah berubah. Opini baru itu tentu akan lebih kuat dari sebelumnya. Atau meski opini awal Anda tetap yang paling kuat, dengan menguji berbagai kemungkinan pertentangan ini, Anda akan mendapat lebih banyak ide untuk mempertahankan pendapat Anda.
Meski demikian, opini hanyalah sebuah pendapat pribadi tentang kebenaran. Anda tidak bisa mengharapkan opini esai Anda menjadi bukti ilmiah. Tujuan Anda adalah untuk meyakinkan, bukan membuktikan. Kekuatan esai Anda diukur dari keberhasilannya meyakinkan pembaca. Setiap opini esai Anda pada akhirnya dapat diuji kekuatannya dengan dua pertanyaan berikut.
1. Bisakah sebuah argumen yang valid dibuat untuk menentangnya?
2. Bisakah saya mempertahankan pendapat melawan argumen tersebut?
Jika keduanya Anda jawab "ya" berarti Anda sudah boleh lega dan yakin bahwa Anda telah berhasil membuat esai yang menarik.

PERCAYA PADA APA YANG ANDA KATAKAN
Topik sebuah esai memang harus berupa argumen. Namun, argumen tersebut harus jujur dan cerdas. Anda memang boleh mengemukakan opini yang berlawanan dengan pendapat banyak orang. Namun, menyatakan sebuah opini berani hanya untuk menarik perhatian adalah tindakan yang konyol. Lebih buruk lagi, tindakan itu menunjukkan suatu ketidakjujuran. Anda mungkin bisa berhenti melakukan tindakan konyol, namun ketidakjujuran tidak bisa diobati. Kejujuran adalah hal terpenting karena ketidakjujuran dalam esai akan segera tercium oleh pembaca. Jadi, selalulah percaya pada apa yang Anda katakan, walau sekali lagi ini bukan berarti Anda harus reaktif menolak semua pendapat yang menentangnya. (t/ary)
Bahan diterjemahkan dan diedit (dengan beberapa penyesuaian konteks perkembangan zaman) dari:
Buku : The Lively Art of Writing
Penulis : Lucile Vaughan Payne
Judul Artikel : What is An Essay?
Penerbit : Follett Publishing Company, 1965
Halaman : 13-22
Share |

Karya Tulis Ilmiah

Menulis makalah? Penelitian Tindakan Kelas? Skripsi? Wah, susah banget! Tapi itulah yang sebenarnya menjadi bagian dari kehidupan akademis di sekolahan maupun di kuliahan. Ya, penulisan makalah sebagai salah satu bentuk karya tulis ilmiah memang sudah disosialisasikan bahkan sejak di bangku sekolah dasar lewat tugas-tugas seperti kliping.
Bagi sebagian besar, tugas menulis karya ilmiah, baik dalam bentuk makalah maupun skripsi, tampaknya menjadi tugas yang berat. Pemilihan topik penelitian, judul makalah, sampai penentuan teori menjadi bagian yang dianggap susah dikerjakan. Tidak heran ketika makalah atau skripsi disusun, beragam perbaikan harus dikerjakan oleh penulisnya.
Memahami struktur sebuah karya ilmiah bisa menjadi cara yang akan menolong penulis dalam menyajikan karya tulisnya. Bila sudah mengenal masing-masing aspeknya, sedikit banyak akan melapangkan alur pemikiran penulis.
Secara umum, sebuah karya tulis ilmiah terbagi dalam tiga bagian besar. Bagian yang dimaksud ialah pendahuluan, isi, dan pembahasan. Meskipun ketiganya merupakan inti dari sebuah karya, tentu saja masih dibutuhkan penyemarak lain, yaitu prakata (bedakan dengan kata pengantar!), daftar isi, daftar tabel/skema, bibliografi, dan lampiran. Tentu saja kelengkapan-kelengkapan tersebut tidak semuanya mutlak disertakan. Masing-masing akan dijelaskan di bawah ini.
PENDAHULUAN
Seperti namanya, bagian ini memberikan gambaran mengenai topik penelitian yang hendak disajikan. Aspek-aspek yang biasa disertakan pada bagian ini diuraikan secara sederhana di bawah ini.
  1. Latar belakang masalah Pada bagian ini, penulis harus menguraikan apa yang menjadi ketertarikannya pada objek yang diteliti. Oleh karena itu, kepekaan untuk memerhatikan fenomena-fenomena yang mutakhir di bidang yang sedang ditekuni menjadi kebutuhan. Tidak jarang, sebuah makalah atau skripsi mendapat sambutan hangat karena membahas topik-topik yang sedang hangat.
    Satu aspek lain yang perlu dikemukakan pada bagian ini ialah tinjauan pustaka. Peneliti perlu menyertakan beberapa penelitian yang relevan dengan topik yang dikerjakan. Hal ini dilakukan agar memperjelas pembaca bahwa penelitian yang dilakukan bukan mengulangi berbagai penelitian lainnya.
  2. Masalah dan batasannya Dari fenomena yang menarik perhatian, penulis harus secara eksplisit mengemukakan masalah yang hendak dibahas. Sebab pada bagian latar belakang, masalah yang hendak dibahas biasanya tidak dikemukakan secara eksplisit.
    Meski demikian, masalah yang hendak dibahas atau diteliti itu masih harus dibatasi lagi. Hal ini dilakukan agar pembahasan tidak meluber luas kepada aspek-aspek yang jauh dari relevan. Selain itu, pembatasan masalah penelitian juga akan menolong dalam hal efektivitas penulisan karya ilmiah.
  3. Tujuan dan manfaat Kemukakan tujuan dan manfaat penelitian yang dikerjakan. Sedapat mungkin dijabarkan keduanya, baik bagi lingkungan akademis maupun masyarakat secara umum.
  4. Metode dan Teknik Analisa Penentuan metode dan teknik menganalisis data juga akan menentukan hasil dari sebuah penelitian. Metode harus dibedakan dari teknik. Mengenai keduanya, Sudaryanto (2001) menyebutkan bahwa metode merupakan cara yang harus dilaksanakan, sedangkan teknik merupakan cara melaksanakan metode. Sebagai cara, tambahnya, kejatian teknik ditentukan oleh adanya alat yang dipakai.
    Dalam ilmu linguistik, metode penelitian berkisar pada dua metode besar, yaitu metode padan dan agih. Sementara tekniknya ada bermacam-macam. Tidak semua metode perlu dan relevan untuk digunakan dalam menganalisa data penelitian. Oleh karena itu, peneliti perlu berhati-hati dalam menentukan metode dan teknik analisanya. Data penelitian yang diperoleh harus benar-benar dicermati perilakunya.
  5. Landasan teori Sebuah penelitian tentu perlu memiliki dasar teoritis yang kuat. Namun, penulis harus benar-benar teliti menentukan dasar teoritis yang akan mendukung pembedahan masalah. Biasanya, bila sudah mengerti perilaku data yang diperoleh, penentuan teori yang hendak dipakai akan lebih mudah.
ISI
Setelah merampungkan bagian awal tadi, penelitian pun dapat dilanjutkan dengan lebih bergumul dengan data yang telah diperoleh. Sub dari bagian isi (biasa disebut juga subbab karena bagian isi umumnya dianggap sebagai bab yang mandiri) biasanya tergantung ruang lingkup masalah. Bila masalah yang hendak dibahas terdiri dari tiga butir, sub bagian isi bisa menjadi tiga. Jangan sampai empat apalagi lima, mengingat pada bagian isi, penulis harus melakukan analisa berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada bab pendahuluan.
PENUTUP
Sebagai penutup, pada bagian ini peneliti harus memberi simpulan dari hasil penelitiannya. Simpulan tersebut harus disajikan secara sederhana dan singkat. Tujuannya agar pembaca bisa lebih menangkap hasil penelitiannya secara ringkas.
Salah satu bagian yang tampaknya masih banyak digunakan sebagai sub-bagian dari penutup ialah saran. Sejumlah departemen pada sejumlah perguruan tinggi belakangan ini mulai menghapus bagian tersebut. Sederhananya, sebuah penelitian mensyaratkan sebuah penelitian lanjutan, entah untuk menyanggah atau menguatkan hasil penelitian terdahulu.
BIBLIOGRAFI
Bibliografi atau yang umumnya disebut sebagai daftar pustaka turut menjadi bagian yang penting. Asumsinya, sebuah penelitian ilmiah tentu akan menggunakan referensi-referensi pendukung. Tidak ada batasan minimal maupun maksimal dalam penggunaan referensi. Namun, ini bukan berarti bahwa peneliti bisa seenaknya mencantumkan referensi. Referensi yang terlalu sedikit bisa menandakan peneliti tidak banyak membaca literatur pendukung atau hasil penelitian terkait. Sementara bila terlalu banyak, bisa-bisa dicurigai hasil tulisannya didominasi oleh pendapat ahli daripada pendapat peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, pemanfaatan referensi harus dilakukan sewajar dan seperlunya saja.
Tata cara penulisan bibliografi pun harus diperhatikan. Bedakan sumber referensi yang berasal dari buku dengan majalah dan surat kabar. Mengingat dunia internet saat ini pun menawarkan beragam hasil penelitian yang dengan mudah dapat diakses, peneliti dapat memanfaatkan sumber-sumber tersebut sebagai bahan referensi penelitiannya. Khusus untuk sumber referensi dari internet, saat ini disepakati bahwa tata cara penulisannya sebagai bibliografi diperlakukan seperti layaknya sebuah artikel.
MENGENAI ABSTRAK
Abstrak juga menjadi bagian penting lain yang perlu diperhatikan oleh peneliti. Abstrak merupakan suatu bagian uraian yang sangat singkat, jarang lebih panjang dari enam atau delapan baris, bertujuan untuk menerangkan kepada para pembaca aspek-aspek mana yang dibicarakan mengenai aspek-aspek itu (Keraf 1984).
MENGENAI PRAKATA
Salah kaprah sering terjadi pada bagian ini. Masih banyak yang memilih menggunakan kata pengantar daripada prakata. Perbedaan yang mendasar dari keduanya, kata pengantar ditulis oleh seseorang dalam rangka menyajikan karya tulis orang lain. Biasanya kata pengantar dipilih untuk memberi kesaksian yang menguatkan bagi pembaca, bahwa karya yang disajikan penulis pantas dibaca atau dijadikan referensi. Sebaliknya, prakata merupakan pengantar yang disajikan oleh penulis karya tersebut.
Pada bagian ini, penulis bisa memberi gambaran singkat mengenai karya tulis yang ia hasilkan. Penyajiannya harus dilakukan dengan variasi yang kreatif, agar tidak dianggap menjiplak bagian latar belakang masalah pada pendahuluan.
STRUKTUR DALAM LAPORAN ILMIAH
Pada dasarnya, laporan ilmiah dapat dikatakan sebagai bentuk singkat sebuah makalah penelitian. Hal ini terlihat dari bentuknya. Bila makalah mensyaratkan penyertaan daftar isi beserta daftar-daftar lain yang memang dibutuhkan, laporan ilmiah lebih ringkas lagi. Dalam sebuah laporan ilmiah, biasa disajikan dalam jurnal-jurnal penelitian, struktur sebuah tulisan ilmiah dapat mengikuti pola yang dikemukakan Soeseno (1982) berikut ini.
  1. Judul yang disertai nama penulis dan tempat tugas pekerjaannya.
  2. Abstrak yang menunjukkan intisari tulisan hasil penelitian yang hendak disajikan.
  3. Pendahuluan, yang sering berisi informasi latar belakang dan identifikasi masalah guna mengantar para pembaca ke arah masalah dan pemecahannya.
  4. Tubuh utama, yang berisi:
    • bahan dan metode penelitian yang dipakai;
    • uraian pelaksanaan dan tafsiran maupun rekaannya.
  5. Penutup, yang berisi:
    • hasil penelitian dan pembahasan;
    • ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membantu terlaksananya penelitian.
  6. f. Referensi berupa daftar pustaka yang telah digunakan dalam penelitian.
Pola di atas tidak sepenuhnya mutlak. Khusus dalam jurnal-jurnal ilmiah, masing-masing jurnal biasanya memberlakukan struktur penulisannya masing-masing. Informasi itu biasanya selalu disertakan dalam salah satu lembaran jurnal.
Daftar Bacaan
Keraf, Gorys. 2004. "Diksi dan Gaya Bahasa". Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Soeseno, Slamet. 1982. "Teknik Penulisan Ilmiah-Populer". Jakarta: Gramedia.
Sudaryanto. 2001. "Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis". Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Share |
 
Copyright © 2011 From P-MEN

Regards for World and for Green My World

Ant Activist With Love for All